Senin, 08 Agustus 2011

Anak Muda dan Hantu


Pada saat itu Sang Buddha sedang bersemayam di Vihara Jetavana, Savatthi. Ada seorang
pemahat kayu yang mempunyai seorang anak laki-laki. Mereka tinggal di Rajagaha. Anak
pemahat kayu ini mempunyai seorang teman yang umurnya sebaya, kedua anak itu selalu
menggunakan seluruh waktu luangnya untuk bermain bola.
Pemahat kayu ini adalah pengikut setia Sang Buddha, demikian pula anaknya. Tetapi teman
anak muda itu adalah anak seorang pertapa. Anak pemahat kayu ini selalu melatih meditasi
terhadap Sang Buddha dalam setiap tindakannya, kalau ia melempar bola ia selalu berkata :
"Terpujilah Sang Buddha!" dengan konsentrasi penuh. Tetapi temannya selalu
mengucapkan pujian terhadap para pertapa dan kalau ia melempar bola ia selalu berkata :
"Terpujilah Sang Pertapa".
Ketika mereka bermain bola, anak pemahat kayu yang setia kepada Sang Buddha selalu
menang dan sebaliknya anak pertapa itu selalu kalah. Anak pertapa itu lalu memperhatikan
kelakuan temannya, ia lalu berpikir :
"Temanku ini selalu mempraktekkan segala sesuatunya dalam bentuk meditasi, ia selalu
mengucapkan kata-kata itu bila ia melempar bola. Apa yang dia lakukan selalu lebih baik dari
pada saya. Ah, saya ingin mengikutinya." Sejak saat itu ia mulai membiasakan dirinya untuk
melatih meditasi terhadap Sang Buddha.
Pada suatu hari, si pemahat kayu menyiapkan kereta yang dihela oleh seekor sapi untuk
mengambil kayu bakar di hutan. Ia mengajak anaknya untuk ikut bersamanya. Dalam
perjalanan pulang, setelah selesai mengambil kayu bakar di hutan, di pinggir sebuah kota, ada
sebidang tanah kosong. Disana terdapat air yang dapat digunakan untuk minum, jadi ia
melepaskan sapinya untuk minum. Mereka sendiri melepaskan lelah sambil menghabiskan
perbekalan makanan mereka.
Ketika malam tiba, ternyata sapi mereka mengikuti sekawanan binatang yang memasuki
kota. Dengan membawa keretanya, anak muda itu mencari sapinya yang hilang. Setelah
menemukan sapinya, ia hendak pulang dan keluar dari kota itu. Namun ternyata ia tidak
menemukan pintu kota. Pintu kota sudah ditutup. Karena hari sudah menjelang tengah malam
dan ia sangat lelah, akhirnya anak muda itu berbaring di bawah keretanya dan tertidurlah ia.
Pada waktu itu, penduduk Rajagaha sedang dicengkeram ketakutan karena ada beberapa
hantu yang selalu mengganggu ketentraman mereka. Tanah yang ditempati anak muda itu,
adalah tempat hantu-hantu itu berkumpul. ketika anak muda tertidur di sana, dua hantu
melihatnya. Salah satu dari hantu itu mempunyai pandangan salah dan hantu yang lain
mempunyai pandangan kolot. Hantu yang mempunyai pandangan salah itu berkata kepada
temannya :
"Orang ini mangsa kita, mari kita makan!"
Hantu kolot itu menjawab :
"Cukup! Buang jauh-jauh pikiran jelekmu itu!"
Sebaliknya, hantu yang kolot itu malah menjaga anak muda tersebut. Tetapi temannya yang
berpandangan salah tidak dapat menerima kata-katanya, ia lalu memegang kaki anak muda itu
dan mencoba untuk melemparkannya.
Sebagaimana latihan meditasi yang selalu dipraktekkannya, ketika kakinya dipegang, anak
muda itupun berteriak :
"Terpujilah Sang Buddha"
Hantu-hantu itu amat kaget, mereka ketakutan dan mundur ke belakang. Hantu yang kolot itu
berkata :
"Kita telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak kita lakukan. Kita harus menerima
hukumannya."
Setelah berkata demikian, hantu yang kolot itu berjaga-jaga di sekitar anak muda itu. Hantu
yang lain lalu memasuki kota menuju istana. Ia mengambil piring emas raja dan memenuhinya
dengan makanan dan membawanya kembali ke tempat anak muda itu tertidur. Kedua hantu
itupun melayani anak muda tersebut. Dengan mewujudkan diri sebagai ayah dan ibunya,
mereka membangunkannya, menyediakan makanan dan menyuruhnya makan.
Dengan kekuatan gaib yang dimilikinya sebagai hantu, mereka menulis surat di atas piring
emas raja, menceritakan apa yang telah mereka lakukan dengan berkata :
"Hanya rajalah yang dapat membaca kata-kata di atas piring ini. Orang lain tidak dapat
membacanya."
Mereka meletakkan piring tersebut di dalam kereta anak muda itu, dan berjaga-jaga di
sekitar tempat itu. ketika menjelang pagi mereka pun pergi.
Pagi harinya beredar berita :
"Piring Raja hilang dicuri orang. Cari pencurinya!"
Pintu kota segera ditutup, dan para penduduk pun mencari piring itu ke pelosok kota. Tetapi
mereka tidak dapat menemukannya. Mereka terus mencari. Ke luar kota, kemana saja, dan
akhirnya piring Raja itu ditemukan di dalam kereta kayu si anak muda.
Anak muda itu ditahan, ia dituduh sebagai pencuri piring emas raja. "Inilah pencurinya!"
Mereka membawa anak muda itu ke istana, menghadap raja. Ketika raja membaca surat
yang ditulis oleh hantu di atas piring itu, ia bertanya kepada anak muda itu :
"Anakku, apa artinya ini?"
"Saya tidak tahu, Yang Mulia," jawab anak itu.
"Ibu dan ayah saya datang tadi malam. Mereka membawakan saya makanan dan berjagajaga
di sekitar saya. Saya pikir 'Ayah dan ibu saya ini pasti melindungi saya dari kejahatan,
membebaskan saya dari ketakutan', sehingga saya tertidur. Hanya itu yang saya tahu, Tuanku."


Pada saat itu pula, ayah dan ibu anak muda itu datang ke istana. Ketika Raja mendengar apa
yang telah terjadi, ia membawa ketiganya pergi bersamanya menghadap Sang Buddha, dan
menceritakan seluruh kejadian itu.
"Yang Mulia," tanya raja, "Apakah meditasi kepada Sang Buddha merupakan suatu
perlindungan? Ataukah meditasi kepada AjaranMu dan bentuk-bentuk meditasi lainnya juga
merupakan perlindungan?"
Sang Buddha menjawab :
"Yang Mulia Raja, meditasi kepada Buddha bukan hanya berarti perlindungan saja. Tetapi
siapa saja yang melatih meditasi dengan disiplin, melatih salah satu diantara Enam Bentuk
Meditasi, ia tidak lagi memerlukan perlindungan lainnya atau mencari pertahanan dari
serangan-serangan luar."
Setelah berkata demikian, Sang Buddha lalu menjelaskan Enam Bentuk Meditasi dengan
mengucapkan syair-syair ini :
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat mulia Sang Buddha dengan penuh kesadaran."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 7 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat mulia Dhamma dengan penuh kesadaran."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 8 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat mulia Sangha dengan penuh kesadaran."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 9 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat badan jasmani dengan penuh kesadaran."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 10 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka bergembira dalam keadaan bebas dari kekejaman."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 11 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka bergembira dalam ketentraman samadhi."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 12 )
Murid Pemberontak

Ketika itu Yang Mulia Kassapa sedang berdiam di Gua Pipphali. Ia mempunyai dua orang
murid yang selalu melayaninya. Salah seorang muridnya amat setia dan selalu melaksanakan
tugasnya dengan baik. Tetapi murid yang satunya, selalu lalai dan malas dalam melaksanakan
tugas-tugasnya. Ia selalu mengambil keuntungan dari pekerjaan yang dilakukan oleh temannya,
dengan mengakui pekerjaan temannya sebagai pekerjaannya sendiri.
Contohnya, apabila temannya telah menyediakan air untuk mencuci muka dan menyiapkan
tusuk gigi, kalau ia tahu, murid yang tidak setia ini akan melaporkan kepada Gurunya, dengan
berkata :
"Yang Mulia, air untuk mencuci muka sudah tersedia, dan ini tusuk giginya. Silahkan
mencuci muka"
Apabila waktunya untuk mandi tiba, ia juga akan melakukan taktik yang sama.
Murid yang setia, melihat tingkah laku temannya yang mencari keuntungan untuk dirinya
sendiri, lalu berpikir :
"Temanku ini selalu melalaikan pekerjaannya dan selalu mencari keuntungan dari apa yang
saya kerjakan. Baiklah, saya akan memperhatikannya".
Ketika murid yang malas ini tertidur sesudah makan siang, ia lalu memanaskan air untuk
mandi, dan menuangkannya ke dalam tempayan air di ruang belakang. Ia hanya menyisakan
sedikit air dalam ketel.
Sore harinya ketika murid yang malas ini bangun, ia melihat air di dalam ketel itu sudah
panas, ia pikir :
"Pasti teman saya ini sudah memanaskan air dan menaruhnya di kamar mandi".
Jadi ia cepat-cepat menghadap Gurunya, sambil berlutut ia berkata:
"Yang Mulia, air untuk mandi sudah tersedia di kamar mandi, silahkan mandi".
Setelah berkata demikian, ia mengiringi Gurunya ke kamar mandi.
Tetapi Yang Mulia Kassapa melihat air mandinya tidak ada, ia bertanya :
"Muridku, dimana air mandinya?".
Si murid lalu pergi ke dapur, dan ia melihat air yang ada di dalam ketel itu hampir kosong.
"Lihat apa yang dilakukan olehnya!", ia amat marah.
"Ia dengan sengaja mengisi ketel itu dengan sedikit air, dan menaruhnya di atas tungku,
kemudian ia pergi, kemanakah dia? Saya pikir air mandinya sudah penuh, sehingga saya katakan
kepada Yang Mulia, air mandi sudah tersedia".
Dengan rasa marah ia mengambil kendi dan menuju ke sungai. Ketika si murid yang malas itu
kembali dan menuangkan air ke bak mandi, Yang Mulia Kassapa berpikir :
"Saya kira anak muda itu telah memanaskan air untuk saya, ketika ia datang dan mengatakan
airnya sudah siap di kamar mandi, silahkan mandi. Tetapi sekarang, dengan penuh kejengkelan,
ia mengambil kendi dan mengisinya di sungai. Apa artinya ini?".
Sesudah mempertimbangkan beberapa hal, Yang Mulia Kassapa sampai pada suatu kesimpulan,
"Selama ini anak muda ini selalu melalaikan tugas-tugasnya, dan mengambil keuntungan dari
pekerjaan yang dilakukan oleh temannya".
Pada waktu murid yang malas itu kembali dan duduk, Yang Mulia Kassapa menegurnya dengan
berkata :
"Muridku, seorang bhikkhu seharusnya tidak mengatakan bahwa saya telah melakukan suatu
pekerjaan, kalau ia tidak betul-betul mengerjakannya. Contohnya, kamu baru saja datang pada
Sang Buddha Pelindungku II hal.
Sumber: website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id
2
saya dan berkata, "Yang Mulia, air sudah tersedia di kamar mandi, silahkan mandi", tetapi ketika
saya masuk ke kamar mandi airnya tidak ada, dan dengan penuh kejengkelan kamu mengambil
kendi dan pergi ke luar. Seseorang yang sudah menjadi bhikkhu seharusnya tidak melakukan hal
itu".
Murid itu amat tersinggung, ia lalu berkata sendiri :
"Lihat apa Yang Mulia perbuat! Mengapa ia berkata begitu hanya karena air mandinya
sedikit".
Hari-hari berikutnya ia menolak untuk berkumpul dengan para bhikkhu lain, untuk duduk
bersama Gurunya dalam suatu ruangan.
Suatu ketika ia pergi mengunjungi rumah pengikut Yang Mulia Kassapa. Umat itu bertanya :
"Yang Mulia, dimanakah Guru Anda?".
"Oh, Yang Mulia Kassapa sedang tidak sehat, jadi Beliau berdiam di Vihara".
"Bagaimana keadaan Beliau sekarang?".
"Berikanlah makanan untuknya, supaya Beliau sehat kembali", kata murid itu seolah-olah
Gurunya memintanya untuk berbuat demikian.
Dengan segera beberapa umat membuatkan makanan seperti yang diminta, dan memberikan
pada si murid untuk disampaikan kepada Yang Mulia Kassapa. Si murid itu lalu mengambil
makanan itu, tetapi dimakannya sendiri dalam perjalanan pulang menuju Vihara.
Suatu ketika, Yang Mulia Kassapa menerima jubah dari para pengikutnya. Jubah itu
ukurannya amat besar, Beliau menghadiahkan jubah itu kepada murid yang menyertainya, ia lalu
mencelup jubah itu dan mengubahnya menjadi jubah yang ukurannya sesuai dengan tubuhnya.
Beberapa hari kemudian Yang Mulia Kassapa mengunjungi rumah umat-umatnya.
"Yang Mulia", kata mereka,
"Muridmu mengatakan pada kami, bahwa Yang Mulia tidak sehat dan segera kami buatkan
makanan seperti yang diusulkannya, dan mengirimkan kepada Yang Mulia. Ternyata sesudah
makan makanan itu, Yang Mulia sehat kembali".
Mendengar hal itu Yang Mulia Kassapa hanya diam saja.
Malam harinya, murid yang tidak setia itu datang. Setelah menghormat, ia pun duduk. Yang
Mulia Kassapa lalu berkata :
"Muridku, saya mendapat informasi tentang hal yang telah kamu lakukan beberapa hari yang
lalu. Bukanlah tingkah laku yang baik bagi orang yang telah meninggalkan keduniawian. Kamu
seharusnya tidak boleh makan makanan yang kamu peroleh dengan memberikan penjelasan yang
keliru pada orang lain".
Si murid yang tidak setia itu amat marah. Iapun menyusun rencana untuk membalas dendam
pada Gurunya. Ia berkata sendiri :
"Beberapa hari yang lalu, hanya karena air mandinya sedikit, ia katakan saya ini pembohong.
Hari ini, hanya karena saya makan makanan dari umatnya yang diberikan kepada saya, ia katakan
'seharusnya kamu tidak makan makanan yang kamu peroleh dengan memberikan penjelasan yang
keliru pada orang lain'. Disamping itu, Beliau memberikan satu set jubah kepada muridnya yang
lain. Oh, Yang Mulia telah memperlakukan saya dengan amat buruk! Saya akan mencari jalan
untuk menghancurkanNya!".
Keesokkan paginya, ketika Yang Mulia Kassapa pergi ke desa berpindapatta, murid yang
tidak setia itu tinggal sendirian di Vihara. Ia mengambil tongkat, menghancurkan semua
perabotan yang ada, yang biasa digunakan untuk makan dan minum, lalu membakar pondok
tempat tinggal Gurunya. Barang yang tidak habis terbakar, dihancurkannya dengan palu. Lalu
iapun melarikan diri.
Ketika mati, ia terlahir kembali di neraka yang paling dalam, yaitu Neraka Avici, karena
Sang Buddha Pelindungku II hal.
Sumber: website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id
3
menerima semua akibat perbuatan buruk yang telah dilakukannya.

Sabtu, 02 Juli 2011

Sikap Sang Buddha terhadap Guru-guru agama lain [Upali]

Upali, seorang jutawan, adalah salah seorang murid terbaik dari guru agama lain yang bernama Nigantha Nathaputta, yang ajarannya berbeda dengan ajaran Sang buddha. Karena sangat mahir dalam hal berdebat, Upali di minta oleh guru agamanya untuk mendekati Sang Buddha dan mengalahkan Beliau dengan pokok-pokok tertentu tentang Hukum sebab-Akibat (Kamma-vipaka). Setelah melewati diskusi yang panjang, Sang Buddha mampu meyakinkan Upali bahwa pandangan-pandangan dari guru agamanya adalah keliru.

Upali sangat terkesan dengan ajaran Sang Buddha sehingga ia langsung meminta untuk di terima sebagai pengikut Sang Buddha. Ia tercengang ketika Sang Buddha menasihatinya,"Upali, engkau adalah orang yang terkenal. yakinlah benar-benar bahwa engkau tidak mengubah agama/kepercayaanmu hanya karena engkau senang kepada Tathagata atau karena engkau sedang dalam pengaruh emosi/perasaanmu. Periksalah sepenuhnya ajaran Tathagata dengan pikiran terbuka sebelum engkau memutuskan untuk menjadi pengikut Tathagata".

Dengan semangat pemeriksaan yang bebas terhadap ajaran Sang Buddha, upali bahkan semakin senang dan ia berkata,"Yang Mulia, adalah sangay menakjubkan bahwasannya Anda meminta saya untuk mempertimbangkannya dengan hati-hati. Jika itu adalah guru-guru yang lain, mereka akan segera menerimaku dengan tanpa ragu-ragu, membawaku berkeliling di jalan-jalan dalam suatu prosesi dan mengumumkan bahwa seorang jutawan yang demikian-demikian telah meninggalkan agama/kepercayaan lamanya dan sekarang memeluk ajaran mereka. Ya, benar-benar, Yang Mulia, sudilah menerima saya sebagai pengikutMu".

Sang Buddha akhirnya setuju menerima Upali sebagai pengikut awamNya tetapi dengan menasehatinya demikian,"Meskipun engkau sekarang telah menjadi pengikutKu, Upali, engkau harus mempraktikkan toleransi dan rasa welas-asih. Teruslah memberi dana kepada guru-guru agama terdahulumu, karena mereka masih amat tergantung pada tunjanganmu. engkau tidak boleh mengabaikan mereka dan menghentikan tunjangan yang biasanya engkau berikan kepada mereka".

Nasihat Sang Buddha tentang toleransi, pemeriksaan yang bebas (terhadap ajaranNya) dan tidak menerima ajaranNya karena alasan-alasan emosi/perasaan, telah memberikan catatan yang bersih dalam sejarah penyebaran agama Buddha. Tidak pernah ada penganut-penganut fanatik agama Buddha yang memaksa orang-orang untuk menerima agama ini dengan menyiksa atau menakut-nakuti mereka dengan ganjaran hukuman. Agama Buddha mampu menyebar dalam cara yang damai, sebagian besar adalah karena keindahannya dan kemauan baik yang terkandung di dalamnya

Senin, 30 Mei 2011

Sang Buddha Memberi Makan Orang Kelaparan

Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang duduk bermeditasi di Vihara Jetavana, dengan Mata Buddha-Nya, Sang Buddha melihat seorang laki-laki yang amat miskin tinggal di Alavi. Sang Buddha mengetahui bahwa orang itu mempunyai kemampuan untuk mencapai tingkat kesucian. Sang Buddha ingin membantu orang itu, lalu bersama dengan lima ratus orang muridnya, Sang Buddha melakukan perjalanan menuju Alavi.
Penduduk Alavi setelah mengetahui kedatangan Sang Buddha, segera mengundang Sang Guru Agung menjadi tamu mereka. Ketika orang miskin itu mendengar kedatangan Sang Buddha, ia ingin sekali bertemu dengan Sang Buddha dan mendengar Ajarannya. Tetapi, pada hari itu seekor lembunya tersesat. Ia bimbang,
"Apakah saya mencari lembu yang hilang itu ataukah saya pergi menemui Sang Buddha untuk mendengarkan AjaranNya?".
Akhirnya ia memutuskan: "Pertama-tama saya akan mencari lembu yang hilang itu terlebih dahulu, kemudian saya akan pergi menemui Sang Buddha".
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia pergi ke hutan untuk mencari lembunya yang tersesat. Penduduk desa Alavi mempersilahkan Sang Buddha beserta murid-muridnya untuk duduk di tempat yang telah mereka persiapkan, dan mempersembahkan bubur dan makanan lainnya dengan penuh hormat. Sesudah makan, Sang Buddha biasanya mengucapkan terima kasih dengan membacakan Paritta Pemberkahan, tetapi kali ini Sang Buddha berkata: "Ia yang menyebabkanKu datang ke sini bersama para bhikkhu sedang pergi ke hutan mencari lembunya yang hilang. Kita tunggu sampai dia kembali, setelah ia datang Aku akan membabarkan Dhamma". Kemudian Sang Buddha duduk diam.
Orang miskin itu setelah menemukan lembunya yang tersesat, segera menggiring lembunya kembali ke kandang. Ia lalu berpikir: "Kalau tidak ada apa-apa lagi, saya harus segera pergi mengunjungi dan memberikan hormat kepada Sang Buddha". Dengan menahan rasa lapar yang amat sangat, ia segera pergi menemui Sang Buddha. Setelah orang itu bernamaskara di hadapan Sang Buddha, ia lalu duduk diam-diam di salah satu sisi. Sang Buddha setelah melihat orang itu datang, segera berkata kepada orang yang melayaninya: "Apakah masih ada makanan?". "Masih ada Yang Mulia, masih banyak makanan". "Berikanlah makanan kepada orang ini". Kemudian orang itu diberikan bubur dan makanan lainnya. Setelah selesai makan, ia mencuci mulutnya lalu duduk dengan tenang.
Kemudian Sang Buddha membabarkan Dhamma, menjelaskan Empat Kesunyataan Mulia. Pada akhir khotbah, orang itu mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapana). Setelah Sang Buddha selesai membabarkan Dhamma, Beliau lalu membacakan Paritta Pemberkahan dan segera meninggalkan desa itu. Di perjalanan, para bhikkhu menyatakan keheranannya dengan apa yang Sang Buddha lakukan pada hari ini, mereka berkata: "Saudaraku, Guru kita belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Tetapi melihat orang itu kelaparan, Sang Guru meminta penduduk desa menyediakan makanan untuknya". Sang Buddha segera berhenti berjalan, berbalik dan bertanya: "O, para bhikkhu, apa yang kalian bicarakan?". Setelah Sang Buddha mendengar apa yang mereka bicarakan, Beliau berkata: "O, para bhikkhu, kadatanganKu kemari dengan melalui perjalanan yang berat dan jauh ini adalah karena Aku melihat orang itu mempunyai kemampuan untuk mencapai Tingkat Kesucian. Pagi-pagi sekali dengan menahan lapar, ia ke hutan mencari lembunya yang hilang. Jadi kalau Aku membabarkan AjaranKu kepada orang yang perutnya lapar, ia tidak akan dapat mengerti apa yang Kuajarkan. Karena itu Aku melakukan apa yang harus Kulakukan. O, para bhikkhu, kelaparan adalah penyakit yang paling berat".
Sang Buddha lalu mengucapkan syair:
"Kelaparan merupakan penyakit yang paling berat. Segala sesuatu yang berkondisi merupakan penderitaan yang paling besar. Setelah mengetahui hal ini sebagaimana adanya, orang bijaksana memahami bahwa Nibbana merupakan kebahagiaan tertinggi"
(Dhammapada, Sukha Vagga no. 7)

Jumat, 06 Mei 2011

Anak-anak Mengunjungi Sang Buddha

Pada suatu ketika, ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vihara Jetavana, Savatthi, terdapat beberapa orang tua yang menjadi pengikut aliran yang sesat. Ketika mereka melihat anak-anak mereka bermain-main dengan anak-anak yang orang tuanya pengikut Sang Buddha, mereka marah dan tidak senang.
Setelah anak-anak itu selesai bermain dan pulang ke rumah, mereka segera memarahi anak-anaknya : "Mulai sekarang, kalau kamu bertemu dengan bhikkhu-bhikkhu pengikut Pangeran Sakya, kamu tidak usah memberi hormat, dan tidak boleh memasuki pertapaan mereka". Anak-anaknya disuruh bersumpah, harus mentaati apa yang mereka katakan. Pada suatu hari, anak-anak pengikut aliran sesat itu sedang bermain-main di luar Vihara Jetavana, tempat Sang Buddha berdiam.
Mereka bermain-main di depan pintu gerbang Vihara, setelah lelah bermain, mereka merasa amat haus dan ingin minum. mereka lalu menyuruh salah seorang temannya masuk ke dalam Vihara : "Kamu masuk dulu ke dalam, mintalah air minum dan bawakan juga untuk kami". Salah seorang anak laki-laki itu masuk ke Vihara, dan bertemu dengan Sang Buddha. Setelah memberi hormat, ia bercerita bahwa mereka sedang bermain-main di depan Vihara dan sekarang merasa haus, ingin minta air minum.
Sang Buddha berkata : "Kamu boleh minum air di sini, kalau sudah minum, kembalilah ke teman-temanmu, ajaklah mereka minum di sini". Kemudian semua anak-anak itu masuk ke dalam Vihara untuk minum. Selesai minum, Sang Buddha mengumpulkan mereka, dan mengajarkan Hukum Alam Semesta dengan kata-kata yang mudah mereka pahami. Akhirnya mereka mengerti dan menjadi murid Sang Buddha. Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing, dan bercerita kepada orang tua mereka tentang Ajaran Sang Buddha.
Beberapa orang tua yang menganut pandangan sesat itu bersedih hati dan menangis: "Anak kami telah manganut pandangan sesat". Tetapi ada beberapa orang tua yang pandai dan mengerti Ajaran Sang Buddha. Ketika menyadari kekeliruannya, mereka mendatangi orang tua yang keliru itu dan menjelaskan Ajaran Sang Buddha. Akhirnya mereka semua mengerti akan Dhamma yang Sang Buddha ajarkan, mereka berkata: "Kami akan menyuruh anak-anak kami melayani Sang Guru Agung kita" Bersama dengan keluarga masing-masing, mereka berbondong-bondong mengunjungi Sang Buddha.
Sang Buddha yang mengetahui bahwa pikiran mereka sudah berubah, segera menerangkan kembali AjaranNya kepada mereka. Sang Buddha mengucapkan syair:
"Mereka yang menganggap tercela terhadap apa yang sebenarnya tidak tercela dan menganggap tidak tercela terhadap apa yang sebenarnya tercela, maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu akan masuk ke alam sengsara". (Dhammapada, Niraya Vagga no. 13)
"Mereka yang mengetahui apa yang tercela sebagai tercela, dan apa yang tidak tercela sebagai tidak tercela, maka orang yang menganut pandangan benar seperti itu akan masuk ke alam bahagia". (Dhammapada, Niraya Vagga no. 14)