Selasa, 26 April 2011

Cerita Buddhis 19: SILUMAN DI PADANG PASIR (Cara Berpikir yang Benar)

Click here to enlargePada suatu ketika ada 2 orang pedagang yang berteman. Keduanya siap melakukan perjalanan untuk menjual barang dagangan mereka, untuk itu mereka harus memutuskan apakah mereka akan berpergian bersama. Mereka setuju untuk melakukan perjalanan bersama-sama. Karena masing-masing dari mereka memiliki sekitar 500 kereta dan mereka akan pergi ke tempat yang sama melalui jalan yang sama pula, maka akan menjadi terlalu ramai jika pergi bersamaan.


Salah seorang dari mereka memutuskan akan lebih baik jika ia pergi terlebih dahulu. Ia berpikir “Jalanan itu tidak akan dilalui oleh kereta-kereta, sehingga sapi-sapi jantan akan dapat memilih rumput terbaik, kami akan mendapatkan buah-buahan dan sayur-sayuran yang terbaik untuk dimakan, orang-orangku akan menghargai kepemimpinanku dan pada akhirnya, aku akan dapat menawar dengan harga-harga terbaik.



Si pedagang satunya betul-betul mempertimbangkan dengan hati-hati dan menyadari bahwa ada keuntungan-keuntungan dengan pergi setelahnya. Ia berpikir “Kereta-kereta temannya itu akan membuat tanah menjadi rata jadi mereka tidak harus melakukan pekerjaan jalan apa pun. Sapi-sapi jantan temannya akan makan rumput tua dan tunas-tunas baru akan tumbuh untuk sapi-sapinya makan, dengan cara yang sama rombongan teman-temannya akan memetik buah-buahan dan sayur-sayuran tua dan buah-buahan juga sayur-sayuran segar akan tumbuh untuk mereka nikmati. Aku tidak perlu menghabiskan waktuku untuk melakukan penawaran jika aku bisa mengambil harga yang sudah ditetapkan dan mendapatkan keuntungan. Untuk itu dia setuju membiarkan temannya untuk pergi terlebih dahulu. Temannya ini yakin bahwa ia telah membodohinya dan sudah mendapatkan yang terbaik untuk dirinya, jadi ia memulai perjalanannya terlebih dahulu.



Si pedagang yang pergi pertama mengalami kesulitan terlebih dahulu. Mereka datang ke sebuah daratan tandus yang disebut “Gurun Pasir Kering (Waterless Desert)” yang mana penduduk setempat mengatakan bahwa tempat itu dihantui oleh siluman-siluman. Ketika kafilah itu sampai di tengah-tengah gurun, mereka bertemu dengan rombongan dalam jumlah yang banyak datang dari arah yang berlawanan. Mereka memiliki kereta-kereta yang berlumuran lumpur dan tetesan air. Di kedua tangan dan kereta-kereta mereka terdapat bunga seroja dan teratai. Pemimpin mereka yang memiliki sikap serba tahu, berkata kepada Si Pedagang “Kenapa kau membawa muatan-muatan berat yang berisi air ini? Sebentar lagi kau akan mencapai sumber air di mana akan banyak air untuk diminum dan buah kurma untuk dimakan. Sapi-sapi jantanmu lelah karena menarik kereta-kereta berat yang diisi dengan tambahan air itu. Jadi buanglah air itu dan berbaik hatilah kepada hewan-hewanmu yang sudah terlalu banyak bekerja itu!”



Walaupun penduduk setempat sudah memperingatkannya, si Pedagang tidak menyadari bahwa mereka bukanlah manusia, tetapi siluman yang sedang menyamar. Bahkan Si Pedangang dan rombongannya terancam bahaya dari siluman-siluman yang ingin menyantap mereka. Karena merasa yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang suka menolong. Si Pedagang mengikuti nasehat mereka dan membuang semua airnya ke tanah.



Ketika si Pedagang dan rombongannya melanjutkan perjalanannya, mereka tidak menemukan sumber air atau air apa pun. Beberapa dari mereka menyadari bahwa mereka telah ditipu oleh makhluk yang kemungkinan adalah siluman-siluman, kemudian mulai menggerutu dan menyalahkan si Pedagang. Di hari terakhir semua orang-orang kelelahan. Sapi-sapi jantannya terlalu lemah untuk menarik kereta-kereta berat mereka karena kekurangan air. Semua orang-orang dan hewan-hewannya berbaring secara sembarangan dan jatuh dalam tidur yang lelap. Seketika itu juga, saat malam hari siluman-siluman itu datang dalam bentuk aslinya yang menakutkan dan menelan semua makhluk yang lemah dan tanpa perlawanan. Ketika mereka selesai memakannya yang tersisa hanyalah tulang-tulang yang tergeletak berserakkan. Tak ada satu pun manusia ataupun hewan tersisa hidup-hidup.



Setelah beberapa bulan, pedangang kedua memulai perjalanannya melalui jalan yang sama. Ketika ia sampai di gurun, dia mengumpulkan semua orang-orangnya dan memberikan mereka nasehat “Daerah ini disebut Gurun Pasir Kering dan aku sudah mendengar bahwa tempat ini dihantui oleh siluman-siluman dan hantu-hantu. Untuk itu kita harus berhati-hati. Karena kemungkinan ada tanaman-tanaman beracun dan air kotor. Jangan minum air apa pun dari tempat itu tanpa bertanya aku terlebih dahulu.” Dengan begitu mereka mulai memasuki gurun pasir.



Setelah berjalan kira-kira melewati setengah perjalanan, dengan cara yang sama seperti kafilah pertama, mereka bertemu siluman-siluman yang basah kuyup sedang dalam penyamaran. Siluman-siluman itu memberi tahu mereka bahwa sumber air sudah dekat dan mereka harus membuang semua air mereka. Tetapi Pedagang yang bijaksana ini segera mengatasi mereka. Si Pedagang tahu bahwa tidak masuk akal jika ada sumber air di tempat yang disebut sebagai ‘Gurun Pasir Kering’. Dan lagi pula, orang-orang ini memiliki mata merah yang menonjol keluar dan memiliki sikap agresif dan ambisius. Jadi ia mencurigai mereka kemungkinan adalah siluman-siluman. Si Pedagang memberitahukan mereka untuk meninggalkan rombongannya dengan berkata, “Kami adalah seorang pedagang yang tidak akan membuang air yang bersih sebelum kami tahu di mana air selanjutnya berasal.”



Kemudian, melihat orang-orangnya sendiri telah memiliki keraguan, Si Pedagang berbicara kepada mereka “Jangan percaya kepada orang-orang ini, mereka mungkin saja siluman-siluman, sampai kita benar-benar menemukan air. Sumber air yang mereka tunjukkan, kemungkinan hanyalah sebuah ilusi atau khayalan belaka. Apakah kau pernah mendengar adanya air di dalam Gurun Pasir Kering ini? Apakah kau merasakan hujan-angin atau awan mendung apa pun?” Mereka mengatakan “Tidak” dan Si Pedagang melanjutkan perkataannya, “Jika kita mempercayai orang-orang asing ini dan membuang semua air kita, nantinya kita mungkin tidak memiliki air apa pun untuk minum ataupun masak, lalu kita akan menjadi lemas dan kehausan, akan sangat mudah bagi siluman-siluman untuk datang dan merampok kita atau bahkan memakan kita! Untuk itu, sampai kita benar-benar menemukan air, jangan membuang-buangnya walaupun setetes!”



Kafilah itu melanjutkan perjalanannya dan pada sore hari itu mereka sampai di tempat di mana orang-orang dari kafilah pertama dan sapi-sapi jantannya telah dibunuh dan dimakan oleh siluman-siluman. Mereka menemukan kereta-kereta, tulang-tulang manusia dan hewan berserakan di sekitarnya. Mereka mengenali bahwa kereta-kereta yang penuh dengan muatan dan tulang-tulang yang berserakan itu adalah milik kafilah yang terlebih dahulu melanjutkan perjalanan. Si pedagang yang bijaksana memberitahukan orang-orang tertentunya untuk tetap berjaga-jaga di sekitar tenda pada waktu malam hari.



Pada pagi harinya rombongan itu bersantap pagi dan memberi makan sapi-sapi jantan mereka dengan sangat baik. Mereka menambahkan muatan mereka dengan barang-barang yang paling berharga yang ditinggalkan oleh kafilah pertama. Demikianlah mereka mengakhiri perjalanan mereka dengan sangat sukses dan kembali pulang dengan selamat, dengan begitu mereka dan keluarga mereka dapat menikmati keuntungan yang telah diperoleh.


Pesan moral: Seseorang harus selalu cukup bijaksana, tidak tertipu oleh kata-kata muslihat dan penampilan yang palsu.

1001 kelereng

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.

Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.

Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.


“Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat”.

Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.

Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya.” Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting”.

“Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini”, sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.

“Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya”.

“Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu”.

“Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku berfikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi”.

“Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!”

Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar ! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.

“Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan”. “Lho, ada apa ini…?”, tanyanya tersenyum. “Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial”, jawabku, “Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.”

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Dikutip dari Indonesian groups

Dari setiap satu kelereng yang telah terbuang, apakah yang telah anda dapatkan ?

Apakah ……..
kesedihan
keraguan
kebosanan
rasa marah
putus asa
hambatan
permusuhan
pesimis
kegagalan ?

ataukah …….
kebahagiaan
kepercayaan
antusias
cinta kasih
motivasi
peluang
persahabatan
optimis
kesuksesan ?

Waktu akan berlalu dengan cepat. Tidak banyak kelereng yang tersisa dalam kantong anda saat ini. Gunakan secara bijak untuk memberikan kebahagiaan yang lebih baik bagi anda sendiri, keluarga, dan lingkungan anda.

Hiduplah Dengan Hati-Hati

Saudara, kita sering mendengar ungkapan HATI-HATI. Kita pun sering memberi nasihat kepada orang lain untuk berhati-hati. Tetapi sesungguhnya, hampir dari kita semua tidak mengerti dengan jelas, apakah sesungguhnya yang disebut dengan 'hati-hati' itu. Hati-hati itu memang perlu. Di mana saja kalau hati-hati itu memang baik, tetapi kalau orang yang saudara beri nasihat itu bertanya, yang disebut hati-hati itu yang bagaimana? Saudara mau jawab bagaimana? Apakah kalau mengendarai mobil 140 km/jam, itu sembrono? Tapi kalau mengendarai mobil 40 km/jam, itu kelewat takut! Apakah yang hati-hati itu kalau 90 km/jam? Apakah begitu? Tidak begitu saudara.

Saudara, menurut Dhamma, yang dimaksud dengan hati-hati adalah suatu sikap yang didasari dengan Kusala Cetana. Kusala Cetana adalah niat yang baik. Cetana artinya niat, kehendak, dorongan pikiran, motivasi, yang mendasari pemikiran kita. Dan Kusala artinya baik, positif, bersih. Bersih artinya bersih dari kehendak yang tidak baik. Menurut pandangan Dhamma, apapun yang menjadi sikap kita, perbuatan kita, yang kita lakukan dengan jasmani atau ucapan, sebelum kita melakukannya, itu akan muncul dalam pikiran kita sebagai "kehendak".

Menurut pandangan agama Buddha, seperti yang disebutkan dalam Dhammapada, pikiran itu adalah awal, pikiran itu adalah pemula, pikiran itu adalah pendahulu, pikiran itu adalah pemimpin. Apapun yang akan kita ucapkan, yang kita lakukan, sebelum kita melakukan, sebelum kita mengucapkan, ia telah muncul lebih dahulu di dalam pikiran kita.

Misalnya pohon yang ada di sana itu. Memang saudara tidak bisa membuat pohon ini. Dia tumbuh secara alami. Tetapi agar pohon ini bisa ada di sini, sebelumnya ada seseorang yang mempunyai niat, "Saya akan menaruh pohon ini didepan patung Buddha itu". Setelah niat itu muncul kemudian dia berpikir lebih mendalam, di mana pohon itu harus diambil, pohon jenis apa yang cocok, kemudian dia berpikir yang lebih detail. Juga, sebelum patung ini muncul, ia muncul terlebih dahulu di dalam ide seseorang. Saya ingin membuat patung Buddha. Dari ide itu kemudian muncul rencana. Patung Buddha yang seperti apa, yang sebesar apa, yang model apa, bahan apa, sikapnya seperti apa, kalau dijual harganya berapa, dll. Dan kemudian muncul patung seperti ini. Sebelum bangunan ini muncul, sebelum gedung-gedung itu muncul, muncul lebih dahulu dalam pikiran seseorang. Saya akan membangun gedung 4 lantai, kemudian dibuat detailnya, dibuat rencananya, dipanggil arsitek, dihitung konstruksinya, dihitung biayanya, berapa lama bisa dilakukan, dan sebagainya, lalu dilaksanakan dan kemudian jadi.

Yang memutuskan adalah pikiran kita. Jadi betapa pentingnya peranan kehendak itu. Oleh karena itu, orang yang ingin bersikap hati-hati, minimal dia harus mempunyai kehendak yang baik. Kehendak yang bersih dari kehendak tidak baik, bersih dari unsur-unsur yang tidak baik.

Kehendak yang negatif, yang tidak baik, akan melahirkan atau menghasilkan perbuatan yang tidak baik. Perbuatan yang tidak baik itu adalah selain merugikan diri sendiri juga akan merugikan orang lain. Niat yang tidak baik itu, yang akan merugikan orang lain, tidak mempunyai dukungan kuat. Dengan kalimat yang lain, tidak masuk akal, tidak sah. Mengapa demikian? Karena, bukankah semua makhluk, setidak-tidaknya sesama manusia, setiap orang, semuanya, agama apapun yang dianut, suku bangsa apapun, bagaimanapun profesi sosialnya, apakah orang kaya, orang miskin atau sangat miskin, semuanya menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah tujuan, obsesi, dan keinginan setiap orang. Bahkan pencuri sekali pun kalau ditangkap dan ditanya, "Kamu mencuri itu apa sih tujuannya?" Pencuri itu menjawab: "Saya mencuri itu karena saya ingin bahagia". Tidak ada pencuri yang mencuri untuk sengsara, "Saya mencuri supaya nanti saya ditangkap, supaya digebuki", tidak ada. Pencuri pun seperti saudara, seperti kita, dia mencuri itu sesungguhnya juga ingin bahagia, hanya caranya yang salah. Apakah ada alasan kita untuk membencinya? Sesungguhnya, tidak. Justru kasihan.

Alangkah lemahnya orang yang mempunyai kehendak yang mengandung unsur untuk mencelakakan, memojokkan, menghancurkan, atau melenyapkan orang lain, alangkah lemahnya dia, tidak masuk di akal, tidak bernalar. Mengapa harus mempunyai niat yang menghancurkan, memojokkan, atau melenyapkan orang lain? Mengapa? Bukankah semua orang termasuk saudara, ingin bahagia? Mengapa saudara berbuat begitu? Oleh karena itu saudara, saya ingin memberi garis bawah yang tebal untuk ini. Kalau saudara ingin berhati-hati, cobalah berusaha untuk mengamat-amati, memeriksa, mengintip, mengecek setiap kehendak saudara, apakah kehendak saya ini mengandung unsur yang negatif ataukah positif? Itu adalah sikap hati-hati yang minimal. Itulah kriteria hati-hati yang pertama.

Kalau saya boleh mengumpamakan, "kehendak" itu seperti produsen. Karma, ucapan dan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan —yang baik pun yang tidak baik? itu seperti produk (hasil produksinya). Kalau produsen itu memproduksi barang-barang dengan bahan-bahan yang baik, pasti hasil produksinya itu baik. Jadi saudara, bagaimana menjaga ucapan, perbuatan kita agar tidak menghancurkan, merugikan orang lain, melenyapkan, membunuh orang lain atau makhluk lain, sebetulnya tidak perlu saudara pusing kalau saudara bisa menjaga kehendak saudara, pasti ucapan dan tingkah laku yang muncul itu akan baik.

Kadang-kadang walau kita sudah punya niat yang baik, masih saja ada orang yang salah mengerti. Salah mengerti adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Karena kita tidak bisa membuat orang lain mempunyai pandangan seperti yang kita harapkan. Tetapi saudara, minimal sudah punya itukad baik, niat baik, kehendak baik, itu sudah positif.

Saya ingin memberikan satu contoh dengan cerita. Di negara mayoritas umat Buddha itu patung Buddha ada di mana-mana, kadang-kadang di perempatan jalan, di depan kantor, sekolah-sekolah, di tepi jalan. Ada yang kecil, ada yang sedang, ada yang besar. Suatu hari ada umat Buddha yang berjalan di tengah hujan yang lebat, dia melihat patung Buddha yang kecil kehujanan. Dia pikir, wah tidak pantas ini. Air hujan membasahi patung Buddha yang tidak ada tutupnya. Tapi dia sendiri tidak membawa payung, pakaiannya basah, mau diangkat dari semen, patung itu melekat dengan alasnya. Dia melihat ke kanan ke kiri, terlihat ada sebuah sepatu yang sudah dibuang, yang sudah jebol, baunya mungkin tidak karu-karuan. Sepatu yang jebol itu diambil, lalu ditaruh di atas kepala patung Buddha, supaya tidak kehujanan. Kemudian dia pergi. Pada waktu hujan sudah berhenti, ada orang lain lewat dan dia juga umat Buddha. "Siapa ini, sepatu jebol ditumpangi di kepalanya patung Buddha. Tidak betul caranya ini, tidak masuk akal, penghinaan ini", lalu diambilnya sepatu jebol itu dan dibuang.

Saudara, menurut psikologi Buddhis, menurut jiwa Dhamma, atau menurut ajaran Dhamma, kedua orang ini sama-sama memiliki cetana yang positif. Kedua orang ini sama-sama mempunyai tindakan yang positif, meskipun caranya yang berbeda. Orang yang pertama mengerudungi kepala patung dengan sepatu yang jebol, orang yang kedua mengatakan; perbuatan ini tidak baik, meskipun ini penilaiannya. Orang yang pertama tetap mempunyai nilai yang positif, meskipun orang yang kedua salah paham dan mengira orang yang pertama itu mempunyai niat yang tidak baik. Niat yang positif itu tidak berubah menjadi niat yang negatif, meskipun orang lain menilai itu negatif. Kalau saya menanam jagung, kemudian tumbuh. Sebelum berbuah, orang melihat apa yang ditanam ini; "Ini bukan jagung, ini jali". Tidak menjadi soal saudara, meskipun orang menilai jagung ini jali, pada waktunya nanti dia berbuah dia tetap akan menjadi jagung. Dan saudara tidak usah pusing dengan apa yang akan saudara hasilkan nanti. Benih itu, bibit itu seperti cetana. Kalau saudara sudah memastikan bahwa kehendak saudara itu baik, maka tidak usah pusing. Ucapan dan perbuatan saudara, sekalipun orang lain akan salah paham, nilainya tetap positif. Apakah orang kedua yang melemparkan sandal yang jebol itu menghancurkan niat positif orang yang pertama? Tidak. Dan apa yang dia lakukan itu apakah negatif, karena dia merusak hasil orang yang pertama? Juga tidak. Orang yang kedua juga melakukan hal yang positif, karena dia membuang sepatu yang jebol itu dengan niat yang positif.

Kalau kita bisa memeriksa dan memastikan bahwa tidak ada unsur yang negatif maka itu menjadi positif. Sekalipun orang lain salah paham kepada kita, sekalipun kita sudah lakukan namun tidak berhasil, tetap harganya positif. Itulah yang disebut dengan 'Hati-hati'. Orang yang hati-hati adalah orang yang selalu memeriksa kehendaknya, mengamat-amati kehendaknya, jangan sampai menimbulkan kehendak yang negatif, yang merugikan orang lain. Tetapi ini tidak cukup. Memang berhati-hati itu harus mempunyai niat yang baik, kehendak yang positif, tetapi tidak hanya asal mempunyai kehendak yang positif, tidak hanya asal mempunyai niat baik. Saya ingin menguraikan faktor yang lain, yaitu sati dan sampajanna. Apakah yang disebut dengan sati? Menurut Sutta, sati mempunyai banyak arti. Yang pertama yaitu kemampuan mengingat. Jadi apa-apa yang pernah anda temui, kenalan-kenalan lama, begitu ketemu saudara ingat, ini menunjukkan satinya kuat, ingatannya kuat, tidak lemah. Banyak mempelajari, dan yang dipelajarinya itu tidak dilupakan, itu satinya bagus. Tetapi sati juga berarti pengenalan. Memang ingatan dan pengenalan tidak bisa dipisahkan. Mengenali bentuk-bentuk, mengenali sesuatu, mengenali keadaan, mengenali orang-orang. Tetapi sati juga berarti kesadaran, sati juga berarti kewaspadaan, sati juga berarti perhatian. Jadi itulah arti dari sati. Ingatan, pengenalan, kesadaran, kewaspadaan, atau perhatian; mewaspadai setiap saat kehendak-kehendak yang muncul. Kewaspadaan misalnya: dari berdiri sudah agak lama saya ingin duduk. Saya harus tahu dengan jelas kehendak ini apakah positif atau negatif. Kalau hanya dari berdiri ingin duduk, dari duduk ingin berdiri, dari duduk ingin berjalan itu netral (tidak positif, tidak negatif). Tetapi juga selain duduk, berdiri dan berjalan, kita juga mempunyai kehendak lain, misalnya ingin menemui dia, ingin melakukan ini, ingin melakukan itu. Mengamat-amati kehendak itu adalah fungsi dari sati. Makin kuat sati kita, kita tidak akan kecolongan. Makin lemah sati kita, kehendak kita akan muncul tidak karu-karuan. Lalu bagaimana agar sati ini menjadi kuat? Ia harus dilatih. Tidak ada atlet yang langsung mempunyai otot yang kuat, nafas yang panjang, daya tahan fisik yang kuat, tetapi itu harus dilatih. Demikian juga sati yang kuat, kewaspadaan yang kuat, perhatian yang kuat, yang tidak lengah, tidak sembrono, itu harus dilatih. Kalau sati saudara baik, maka cetana saudara akan terseleksi. Tidak akan muncul begitu saja, tanpa diketahui, tanpa dilihat, tanpa diamat-amati.

Sampajanna terjemahannya yang paling tepat adalah 'Pengertian lengkap' (pengertian atau pengetahuan lengkap). Apakah yang dimaksud dengan pengertian lengkap? Sampajanna meliputi 4 hal, yaitu:

a. Sathaka Sampajanna,

b. Sappaya Sampajanna,

c. Gocara Sampajanna, dan

d. Asammoha Sampajanna.

a. Sathaka Sampajanna

Artinya "Pengertian yang lengkap tentang kebenaran". Ini maksudnya adalah, kalau saudara mempunyai kehendak yang baik, saudara harus melihat 'baik' itu dari berbagai segi. Yang pertama dari segi Dhamma. Apakah betul niat saya ini baik dari segi Dhamma, tidak bertentangan dengan Dhamma. Yang kedua, tidak bertentangan dengan hukum negara. Yang ketiga, juga tidak bertentangan dengan hukum yang tidak tertulis yang berlaku di lingkungan sekitar.

Di daerah saya ada kepercayaan begini: Kalau baru selesai melayat orang mati ke kuburan atau ke krematorium, tidak boleh langsung menengok orang sakit. Kalau habis melayat orang mati lalu menengok orang sakit itu nanti membuat si sakit cepat mati. Apakah betul, Bhante? Oh jelas tidak betul. Tidak sesuai dengan kebenaran. Mati, sehat, atau sakit itu tergantung dari berbagai macam faktor, singkat kata adalah karena KARMA masing-masing. Tetapi kalau menurut Dhamma, menengok orang sakit itu memang baik. Hukum negara juga tidak ada yang melarang. Tetapi kalau di lingkungan atau di daerah orang itu, kalau menengok orang sakit ini, akan menjadi kesalah-pahaman. Sebagai bhikkhu, saya tidak ingin memperbaiki pandangan yang salah itu? Ya saya ingin, tetapi caranya harus bijaksana, tidak radikal. Kalau radikal nanti jadi bumerang. Itu namanya sikap tidak hati-hati.

Saudara tidak perlu menjadi pahlawan, menjadi orang pertama yang memulai, dengan resiko akan membuat keonaran, kekacauan, ketidak-harmonisan. Jadi memang, punya niat baik itu syarat mutlak, tetapi dia tidak boleh berdiri sendiri. Tidak asal niat baik. Tetapi baik itu harus sathaka sampajanna, kita harus melihat tidak hanya dari satu arah, tetapi dari berbagai arah, sehingga sikap kita tidak akan membuat keonaran, kekacauan, dan sebagainya. Itulah yang disebut dengan hati-hati. Kalau saudara tidak mau melihat kiri kanan, tidak mau melihat suasana di sekitar, "pokoknya niatku apik", ini juga termasuk ceroboh.

b. Sappaya Sampajanna

Artinya "Pengertian lengkap tentang kelayakan". Apakah yang dimaksud dengan kelayakan? Kalau saya mempunyai niat yang seperti ini, jelas sekali itu baik, bersih, saya sudah cek berkali-kali, periksa berkali-kali, dari segala arah, dari Dhamma, dari hukum yang tertulis maupun hukum yang tidak tertulis. Tetapi, kita perlu Sappaya Sampajanna, yaitu apakah saya mampu melaksanakan niat itu? Saudara harus mengukur pada diri sendiri. Satu contoh, seorang ibu-ibu yang sudah berumur 65 tahun, pendidikannya sampai kelas 5 SD, bisa baca dan tulis. Nah, kalau ibu berumur 65 tahun, dengan pendidikan formal hanya SD kelas 5, sekarang kok punya cita-cita ingin menjadi menteri —Menteri Sosial?misalnya, apakah mampu? Saya pernah mendapatkan penjelasan dari seseorang yang sering memberi pelajaran tentang manajemen. Menurut ilmu manajemen modern, seorang pemimpin itu harus bisa mengira-ngira. Jadi kalau mempunyai program atau cita-cita itu harus bisa mengira-ngira, mengukur, saya mampu mencapainya atau tidak? Persis sih memang tidak bisa, halangan pasti muncul, tetapi cita-citanya itu yang bernalar, jangan yang muluk-muluk. Pemimpin yang tidak mempunyai atau tidak melihat visi/gambaran, kira-kira tujuan apa yang mampu ia capai, maka orang itu tidak bisa menjadi pemimpin. Nanti cita-cita, programnya itu meskipun baik, tetapi terlalu idealis, tidak bakal terlaksana, karena tidak mampu. Nah, itu namanya sembrono, bukan orang yang berhati-hati.

c. Gocara Sampajanna

Artinya "Pengertian yang lengkap tentang ruang lingkup". Apa yang dimaksud dengan Ruang Lingkup? Saudara boleh melakukan apa saja, yang sudah tentu dengan niat yang baik dan benar dari segala arah, asal apa yang saudara lakukan itu mempunyai hubungan dengan apa yang ingin saudara capai. Contohnya bagaimana? Misalnya kita mau membangun vihara, lalu kita bikin arisan? Tidak apa. Karena hasil arisannya nanti akan masuk ke panitia pembangunan. Jual parcel, tidak apa. Apa hubungannya parcel dengan vihara? Karena keuntungan dari jual parsel ini masuk ke panitia pembangunan. Bikin malam kesenian, lho vihara belum jadi kok malah senang-senang bikin acara malam kesenian. Tidak apa, asal ada keuntungannya, lalu keuntungannya masuk ke panitia pembangunan. Arisan, jual parcel, bikin malam kesenian, sepertinya tidak ada hubungannya dengan pembangunan vihara, tetapi kalau itu ditujukan untuk cita-cita supaya tercapai, itu termasuk Gocara Sampajanna.

Sesungguhnya, dalam hidup bermasyarakat, saudara cukup sampai di sini, yaitu: niat baik, sathaka sampajanna, sampaya sampajanna, dan gocara sampajanna. Nah, inilah bekal atau pedoman untuk membawa diri saudara di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai macam rangsangan, bujukan, dan sebagainya. Tetapi di sini, kalau saudara ingin meningkatkan batin saudara menjadi ke tingkat yang lebih tinggi, tidak di level yang biasa, ada yang nomor empat, ini yang paling sulit.

d. Asammoha Sampajanna

Yang dimaksud dengan asammoha sampajanna adalah "Pengertian yang lengkap, bebas dari kegelapan batin, bebas dari moha". Apakah yang dimaksud ini saudara? Kalau saudara mempunyai niat baik, sathaka sampajanna, dari segala arah dicek dengan baik, dan niat itu memungkinkan untuk dicapai, dan berhasil. Pada waktu saudara mencapai niat itu, kemudian saudara berhasil, kalau saudara menginginkan Asammoha Sampajanna untuk meningkatkan kualitas mental saudara agar naik ke level yang tinggi, saudara tidak boleh punya perasaan atau pengertian bahwa: "Saya sudah melakukan tujuan yang baik dan sudah berhasil". Tidak boleh sama sekali. "Saya sudah menolong dia, saya sudah berkhotbah dan selesai, saya sudah membuat orang lain puas, saya sudah menyelesaikan kewajiban". Tidak boleh. Mengapa? Karena ada 'aku yang sesungguhnya' yang melakukan, yang merasakan keberhasilan itu. Padahal tidak ada 'aku yang sesungguhnya' itu. Kalau saudara tanya, Bhante, ini siapa yang memberikan Dhammaclass? Saya mengatakan: 'Saya, aku'. Itu kok boleh, Bhante? Itu supaya kita berbicara tidak bingung. Ini tas siapa? Ini tas saya, bukan tas anda. Tetapi pengertian saya sendiri ke dalam, harus dimengerti bahwa tidak ada aku yang benar-benar memiliki tas ini, tidak ada aku yang memberi khotbah yang sudah selesai dan membuat anda puas. Mengapa kok tidak ada? Sebab, khotbah ini bisa terjadi karena banyak macam sebab! Misalnya: ada lampu/penerangan. Ada saudara, kalau tidak ada saudara, saya mau berkhotbah kepada siapa. Ada bahan, ada kehendak untuk berkhotbah, ada yang dikhotbahi. Jadi seperti ada orang sakit, ada kehendak untuk mengobati, dan ada obat, obatnya lalu diberikan kepada yang sakit. Yang sakit merasa senang, sembuh. Kalau ditanya: "Siapa yang menolong dia, yang memberikan obat?" "Saya". Itu boleh. Tetapi pengertian untuk kemajuan batin harus dimengerti bahwa tidak ada 'saya' yang menolong mengambil obat. Mengapa? Kalau tidak ada yang sakit, siapa yang mau diambili obat? Kalau ada yang sakit, tidak ada obat, apa yang akan diberikan? Kalau saya sudah mengatakan, saya sudah menolong dia, mengatakan begitu dan merasa begitu menang, itu namanya menang-menangan, mendiskreditkan, menganggap orang sakit dan obat itu tidak ada. Yang ada, aku sudah berbuat menolong. Lalu, yang ada itu apa, Bhante? Yang ada adalah proses, proses yang baik, mata melihat itu, "Kok ia sakit", timbul kehendak, melihat obat ada di sini, tangannya bergerak, lalu obat ini diangkat, diberikan pada dia. Dianya lalu senyum-senyum, senang, ya sudah. Hanya begitu saudara —proses. Itu namanya proses yang baik. Aku yang berbuat baik itu tidak ada. Ini hanya salah satu faktor. Untuk bercakap-cakap, membuat orang agar tidak bingung, boleh kita mengatakan "Dia yang memberikan obat". Tetapi untuk kepentingan batin, ini tidak boleh. 'Aku' yang sejati itu yang mana? Pikirannya, jasmaninya, perasaannya, hidungnya, matanya?

Sering saya bertanya, saudara melihat ini sebagai apa? Bentuk ini apa? Rumah. Siapa yang diantara saudara melihat ini lalu bilang: "Oh, ini nagasari". Tidak ada. Tetapi coba saudara tunjukkan, mana yang intinya rumah, mana yang disebut rumah yang sejati, yang betul-betul rumah? Kalau yang lain-lain dipisah-pisahkan, intinya rumah yang mana? Tidak ada. Coba saudara tunjuk yang mana? Ini lantai, ini dinding, ini plafon, itu atap. Mana yang disebut rumah? Kalau bentuk ini dirobohkan, ditumpuk-tumpukkan di sini, tidak dibuang, tidak diambil, utuh tapi diroboh dan ditumpuk-tumpukkan di sini; rumahnya hilang. Orang melihat apa? Oh, itu puing-puing. Jadi rumah itu apa Bhante? Rumah itu adalah sebutan saja, supaya kita tidak bingung. Ini rumah, ini gelas.

Kalau saya pelan-pelan jalan, saudara mengatakan ini jalan. Tapi kalau nanti lebih cepat, disebut lari. Apakah ini jalan, atau sungguh-sungguh jalan? Ini hanya kaki yang bergerak begini. Proses kaki ini bergerak, itu yang betul.

Faktor-faktor berkumpul menjadi satu, cocok, lalu jadi, dan itu tidak kekal. Kalau saudara bisa punya pengertian seperti begitu, batin saudara akan naik menuju ke level yang tertinggi. Kalau hanya menjaga niat tidak negatif, tidak jahat, baik dari segala arah, punya cita-cita yang masuk akal, tidak muluk-muluk, dan berusaha mencapai sukses, dan bahagia, itu biasa saudara. Dan itu sudah cukup untuk hidup bermasyarakat. Jadi kalau saudara tidak bisa mengerti yang nomor 4, jangan pusing. Tinggalkan saja, buang! Tidak usah dipikir-pikir, buang saja! Yang penting saya menginginkan saudara minimal mempunyai sikap yang disebut hati-hati.

Hati-hati itu menurut ajaran agama Buddha adalah punya kehendak baik. Dan itu harus sengaja dilihat, diteliti dan betul-betul kita mengerti itu sebagai baik. Yang baik itu dari segala arah. Dari Dhamma, dari undang-undang, dari lingkungan, dan dari sama sekali bukan baik karena saya merasa baik. Kemudian Sappaya Sampajanna, niat itu yang masuk akal, yang mampu kita lakukan dan capai, kemudian berusaha dengan tidak meninggalkan niat yang telah kita sepakati - gocara sampajanna-cukup. Kusala Cetana, Sathaka Sampajanna, Sappaya Sampajanna, Gocara Saampajanna; cukup! Kalau saudara tidak mengerti yang nomer 4, buang saja. Tetapi kalau saudara bisa mengerti, saudara membawa sikap mental saudara ke tingkat level yang paling tinggi, yang mungkin itu adalah ciri khas dari apa yang menjadi ajaran agama Buddha.

[Sumber: Kaset kotbah Dhamma. Dikutip dari Mutiara Dhamma X ]

Frustasi Karena Cinta

Dalam dunia ini, adalah tidak mungkin untuk memenuhi seluruh keinginan kita. Tak perduli bagaimana kuat dan berpengaruhnya seseorang, ia akan tetap mengalami frustrasi. Ia akan menginginkan sesuatu yang tidak dimilikinya. Ketika ia telah memilikinya, ia menginginkan yang lebih banyak atau sesuatu yang lainnya lagi. Keinginan yang tak terpuaskan adalah wajar bagi setiap insan di dunia ini.

Dalam kenyataannya, keinginan akan cinta orang lain selalu menimbulkan frustrasi. Jika seseorang jatuh cinta dan mengetahui bahwa perasaannya tidak terbalas, ia menjadi patah hati. Hal ini sering terjadi di kalangan muda. Bahkan keadaan yang sudah jelas menyenangkan dapat berubah secara tiba-tiba. Sebagai contoh: * Siapa yang menikahi gadis itu? Suatu ketika seorang pemuda sangat mencintai seorang gadis dari kota lain. Setiap hari ditulisnya surat yang panjang kepada sang gadis, untuk mengutarakan cintanya. Setelah mengirim tidak kurang dari ratusan surat, pemuda ini mengalami hal yang menyakitkan, sang gadis jatuh cinta dan menikah dengan tukang pos yang mengantarkan surat-surat tersebut. Sejumlah orang jatuh cinta pada pandangan pertama dan tetap bahagia sampai akhir hidup mereka. Sedang yang lainnya jatuh cinta pada pandangan pertama, hanya untuk menyadari bahwa ia hanya tergila-gila dan menyesalinya kemudian. Tetapi kebanyakan, cinta membutuhkan waktu untuk berkembang. Karena itu, jika cinta tidak cepat berkembang, seseorang jangan terlalu mudah kecil hati.

Ada pepatah menyatakan bahwa seorang pengecut tidak pernah memikat hati seorang wanita cantik. Artinya bahwa seseorang yang terlalu cepat putus asa tidak akan dapat menikah dengan gadis yang diinginkannya. Sejumlah orang dapat bertingkah laku secara dewasa dan perlahan-lahan menarik perhatian orang lain dengan keramahan, pengertian, ketabahan dan kasih sayang untuk sesama. Orang tidak boleh seenaknya atau egois dalam mengungkapkan perasaannya. Bagaimanapun, perasaan manusia, seperti juga semua yang ada di alam, akan berubah. Jika seseorang dapat bertingkah laku baik, selalu ada kesempatan bahwa lawan jenisnya akan menyadari sifat-sifat baiknya dan timbul rasa simpati terhadap orang tersebut, tapi kesemuanya ini memerlukan waktu. Tetapi harus ada batas dalam usaha memikat hati lawan jenis, terutama jika jawabannya sudah jelas 'TIDAK' dan orang tersebut seharusnya tidak menjadi ekstrim dalam mengutarakan cintanya. Seseorang seharusnya memberikan hak kepada orang lain untuk membuat keputusannya sendiri dan menghormati keputusan tersebut. Tidak ada ketentuan bahwa cinta seseorang harus dibalas. Dalam keadaan dimana cinta seseorang tidak terbalas, jalan yang terbaik bagi kedua belah pihak adalah saling mengharapkan kebahagiaan pada masa yang mendatang dan tetap sebagai teman tanpa menimbulkan gangguan apapun kepada pribadi masing-masing atau menyusahkan diri mereka sendiri. *

Perceraian

Dalam setiap hubungan percintaan, selalu ada kemungkinan untuk bercerai. Hubungan yang seperti mimpi telah menjadi hambar dan kedua pihak yang terlibat dapat melihat kedatangan perpisahan itu. Dalam perceraian ada perasaan yang terluka, terutama apabila perasaan seseorang telah terikat seluruhnya menjadi satu. Simpul perasaan harus diputuskan cepat atau lambat, dan setiap kali mereka diputuskan, pihak-pihak yang terlibat akan sedikit berduka. Setiap orang harus menerima kenyataan bahwa untuk beberapa saat, ia akan mengalami perubahan yang tajam pada perasaannya. Ingatan terhadap hal-hal yang dikatakan atau dilakukan akan timbul secara tiba-tiba dan akan menimbulkan berbagai macam perasaaan. Dalam keadaan demikian, sejumlah orang bertingkah laku seperti korban yang terluka. Jika tidak ada sesuatupun yang dapat dilakukan untuk mencegah perceraian, hal yang pertama-tama harus dilakukan adalah menerimanya sebagai sesuatu yang tak dapat dihindarkan. Sebelum melakukannya, seseorang akan 'lumpuh', dengan pikiran yang terus menerus mempertanyakan bagaimana caranya untuk memperbaiki sesuatu yang tak dapat diperbaiki.

Seseorang harus siap untuk menjalani beberapa tahapan emosi sebelum pulih akibat perceraian. Pertama-tama akan terjadi goncangan. Sulit dipercaya bahwa perceraian telah terjadi, setelah itu harga dirinya akan jatuh. Ia merasa sangat malu, terutama kepada dirinya sendiri. Setelah goncangan dan menemukan cara untuk mengembalikan harga dirinya, ia harus menghadapi kesepian dari kesendiriannya. Tetapi pada akhirnya ini akan berakhir juga. Tidak akan menghilang dalam sehari atau seminggu, prosesnya memakan waktu, tetapi pasti akan berakhir. Selama periode ini, ia harus mencoba setahap demi setahap. Jangan memikirkan yang telah lampau atau terlalu mengkhawatirkan masa mendatang. Cara ini membantunya untuk melalui hari-hari yang sangat buruk. Dan kemudian, tanpa disadarinya, ia sudah tidak dipengaruhi lagi oleh perceraian, dan benar-benar bebas kembali. Dia harus menghindari dari melakukan kebodohan selama waktu penyesuaian. Sering kita membaca dari koran-koran yang memuat tragedi-tragedi seperti bunuh diri, kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang yang patah hati. Ada sebuah kasus mengenai seorang pemuda yang terjun ke sungai dan tenggelam, dengan surat-surat cintanya yang terbungkus rapi dalam sebuah kantong plastik tersimpan di kantongnya. Ia patah hati karena kekasihnya memutuskan untuk menikah dengan laki-laki lain. Pemuda ini melakukan bunuh diri secara fisik. Banyak orang melakukan pembunuhan perasaannya, dengan menjadi gila karena frustrasi dan sangat kecewa dengan hubungan cinta yang putus. Sedang yang lainnya tidak mau menikah atau jatuh cinta lagi setelah hubungan cintanya kandas. Mengapa orang-orang harus mengalami penderitaan ini? Tidak lain karena mereka tidak mempunyai pengertian tentang ketidak-pastian hidup dan karena itu terperangkap dalam pergolakan perasaan. Mereka memperkuat ikatan kasih sayang dan memupuk harapan-harapan yang tidak masuk akal.

Seseorang yang lebih mengerti alam kehidupan ini akan mengetahui bahwa hidup dipengaruhi oleh delapan keadaan duniawi. Seperti ombak di samudra demikianlah delapan keadaan ini berpengaruh. Saat yang menyenangkan akan disambut dengan tangan terbuka, dan saat yang tidak menyenangkan agak sulit untuk dipikul. Seperti sebuah pendulum yang berayun ke depan dan belakang, keadaan yang diinginkan dan tak diinginkan berlaku di dunia ini dari setiap orang tanpa kecuali harus menghadapinya. Seseorang dapat menikmati keuntungan, tetapi untuk setiap keuntungan juga ada bahaya kerugian. Seperti terjadi pada popularitas, pujian dan kebahagiaan, yang bisa menimbulkan resiko negatifnya, yaitu: difitnah, dicela dan menderita. Bagaimanapun, setiap kejadian akan membawa harapan bahwa keadaan akan berubah menjadi lebih baik. Suatu kerugian dapat menjadi dasar untuk keuntungan yang akan datang, sementara ketidak-terkenalan dapat berubah menjadi terkenal, celaan menjadi pujian, dan penderitaan menjadi kebahagiaan. Itulah ketidak-tetapan keadaan duniawi. Dan persoalan cinta juga merupakan keadaan duniawi. Cinta antara dua manusia dapat tumbuh secara mendalam dan dewasa, bersikap saling memberi, saling menghormati dan saling berbagi rasa. Tetapi juga dapat menjadi hambar bila pihak-pihak yang terlibat saling mengabaikan atau ketika keadaannya yang berubah tanpa ada satu pihak pun yang salah.

Salah satu cara untuk menghibur penderitaan batin yang mendalam atau frustasi adalah dengan membandingkan kadar/tingkat penderitaan dan kesulitan kita dengan yang dialami oleh orang-orang lain. Anda menyangka bahwa dunia akan kiamat. Tetapi, jika anda mencoba untuk melihat penderitaan orang lain dan mencoba untuk menghitung berkah-berkah yang anda dapatkan, anda akan terkejut menyaksikan betapa banyak orang yang lebih menderita daripada anda. Singkatnya, anda telah terlalu membesar-besarkan penderitaan anda. Banyak yang lebih menderita daripada anda, tetapi mereka tidak terlalu mengkhawatirkannya. Metoda lain untuk mengatasi persoalan anda adalah mengingat apa yang pernah anda alami dengan keadaan yang sama atau lebih buruk daripada persoalan anda yang sekarang dan bagaimana anda, dengan kesabaran dan usaha anda dapat mengatasi kesulitan anda. Dengan demikian anda tidak akan membiarkan persoalan anda 'menenggelamkan' anda. Sebaliknya anda akan menyiapkan cara untuk menyelesaikan setiap persoalan yang anda hadapi. Anda harus menyadari bahwa anda telah melewati situasi yang lebih buruk dan anda telah siap dalam menghadapi persoalan apapun. Dengan pikiran seperti itu, anda segera akan memperoleh kembali kepercayaan diri anda dan akan dapat menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan anda.

(Dikutip dari majalah BUDDHA CAKKHU No.19/XI/90. Naskah Asli: How To Live Without Fear And Worry, Alih bahasa: Winata, Editor Jayadhammo

Arti Berlindung

Arti Berlindung
Oleh: Yang Mulia Somdet Phra Nanasamvara


Harus dipahami bahwa Agama Buddha tidak bertujuan untuk membuat kita menyembah Sang Buddha sebagai makhluk surgawi dengan kekuatan-kekuatan supranormal. Agama Buddha lebih bertujuan untuk membuat kita memuliakan; Sang Buddha sebagai Buddha sejati (yang benar-benar telah tercerahkan oleh diri-Nya sendiri dan kemudian mengajarkan Dhamma kepada makhluk lain), untuk membuat kita memuliakan Dhamma sejati (yang dibabarkan oleh Sang Buddha), dan memuliakan Sangha sejati (Komunitas orang-orang yang berlatih). Tiga Perlindungan ini nyata dan dapat diandalkan.

Sebagian orang mungkin meragukan Ajaran Sang Buddha, sehubungan dengan Dhamma yang menyatakan; "Diri ini adalah pelindung bagi diri sendiri" dengan pernyataan tiga perlindungan terhadap; Buddha, Dhamma dan Sangha. Ada syair yang mengokohkan tiga perlindungan itu dan menyangkal perlindungan lain. Syair itu berbunyi:

"Tiada perlindungan lain bagiku; Sang Buddha-lah sesungguhnya pelindungku yang tertinggi,
Tiada perlindungan lain bagiku; Sang Dhamma-lah sesungguhnya pelindungku yang tertinggi,
Tiada perlindungan lain bagiku; Sang Sangha-lah sesungguhnya pelindungku yang tertinggi."
Jika orang mendengar sepintas, tampaknya ketiga hal ini saling berlawanan, tetapi sebenarnya tidaklah demikian.

Pertama, marilah kita lihat secara jelas ketiga obyek itu. Walaupun berbeda dalam pengertian materi, namun memiliki esensi yang sama; karena ketiganya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sang Buddha mewujudkan Dhamma, dan Dhamma ini dilestarikan oleh Sangha, sedangkan Sangha adalah murid-murid Sang Buddha; jadi ketiganya saling berhubungan. Ibarat tiga tiang kayu yang saling menyangga. Jika orang berlindung pada salah satunya, otomatis dia bergantung pada ketiganya. Dalam pengertian lain, Sang Buddha adalah perlindungan tertinggi; demikian juga Dhamma dan Sangha, sesuai dengan sifat-sifat khususnya masing-masing. Penghafalan kitab suci hanya merupakan ungkapan sederhana; tiada perlindungan lain selain Sang Buddha, tiada perlindungan lain selain Dhamma, tiada perlindungan lain selain Sangha.

Di sini, kita sampai pada masalah: apakah ini berlawanan dengan ajaran untuk berlindung pada diri sendiri? Sebenarnya, ketiga perlindungan ini disebut "sarana", sedangkan perlindungan pada diri sendiri disebut "natha", namun tidak perlu kita menyelidiki asal kata dari bahasa Palinya. Ajaran-ajaran ini tidak berlawanan, justru sebenarnya sangat sesuai. Seandainya kita membandingkan kehidupan kita dengan suatu perjalanan; kita mengambil perlindungan pada Sang Buddha sebagai pemandu, pada Dhamma sebagai jalan, pada Sangha sebagai orang-orang yang terus berjalan untuk menunjukkan jalan, dan pada diri sendiri kita sendiri sebagai musafir. Di sini, "diri" berarti diri kita sendiri, yang merupakan sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan. Sejak lahir kita sudah harus berlindung pada diri sendiri.

Marilah kita renungkan hal ini sejenak, seorang anak memang tidak dapat bergantung pada dirinya sendiri; ayah atau ibunya harus selalu membantu menopangnya. Tetapi dalam hal yang paling penting anak itu justru harus bergantung pada dirinya sendiri. Orang tua menyediakan makanan dan mereka hanya dapat meletakkan makanan itu di mulut si anak. Lalu anak itu sendirilah yang harus mengunyah dan menelannya; tubuhnya harus menerima dan mencernanya. Dalam mengunyah dan menelan makanan, si anak harus bergantung pada dirinya sendiri. Begitu juga dalam hal belajar; si anak mungkin bergantung pada orang tuanya untuk mencari sekolah dan membayar uang sekolah, tetapi dia sendirilah yang harus belajar. Dia tidak dapat bergantung pada ibunya, ayahnya, atau siapa pun juga, agar belajar dan mencari ilmu baginya, sementara dia duduk santai berpangku tangan. Belajar untuk memperoleh pengetahuan membutuhkan ketergantungan pada diri sendiri, pada sendiri, dan pada kekuatan intelegensinya sendiri. Inilah yang disebut berlindung pada diri sendiri. Tatapi bagaimana orang dapat berlindung pada diri sendiri agar tidak menjadi malas dan tidak gagal? Orang harus berlatih sesuai dengan ajaran dan petunjuk Sang Buddha, yang mengajarkan kepada kita untuk berjuang dengan gigih sampai berhasil. Inilah yang disebut berlindung pada Sang Buddha, Dhamma dan Sangha; yaitu, merenungkan ketiganya dan berlatih sesuai dengan itu semua. Ketiganya dapat menjadi perlindungan bagi diri sendiri; demikian juga orang dapat berlindung pada diri sendiri.

Barangkali akan timbul pertanyaan; pada saat ini, di manakah Sang Buddha bersemayam? Murid-murid yang mempelajari sejarah Buddhis akan menjawab: pada saat ini, yang ada hanyalah Dhamma dan Vinaya (Peraturan) yang dicetuskan oleh Sang Buddha ketika Beliau masih hidup. Dhamma dan Vinaya sebagai wakil Guru Agung pernyataan tersebut dibuat ketika Beliau akan meninggal dunia(parinibbana). Tetapi beberapa murid Dhamma lain mungkin berusaha membuat orang lain berpikir dengan menjawab: "Sang Buddha mencapai Dhamma yang Kekal (amatadhamma), maka Beliau tidak dapat mati". Jadi sekarang inipun, Sang Buddha masih ada dan akan tetap ada selamanya. Di manakah Beliau bersemayam? Beliau ada di dalam Dhamma yang Kekal. Beberapa murid Dhamma lainnya mungkin akan mengacu pada bukti yang terdapat di kitab suci; di sana tidak disebutkan apakah Sang Buddha dan para Arahat meninggal dan lenyap, atau meninggal untuk dilahirkan lagi. Hal ini disebabkan karena yang mati adalah khandha(indriya) atau khandha tubuh (khandha-kaya). Sang Buddha dan para Arahat bukanlah khandha. Bila dikatakan bahwa mereka meninggal dan lenyap, atau meninggal dan apa pun sebutannya, semua itu tidaklah benar. Murid-murid Dhamma masih mempertahankan bahwa bila Sang Buddha dikatakan ada dan kekal, ini bukannya tanpa dasar. Jika orang ingin melihat Buddha pada saat ini atau kapanpun, dia harus bertekad untuk mempraktekkan Ajaran Buddha. Dia harus melatih pikiran untuk konsentrasi, melatih pemahaman Dhamma, dan kemudian dia akan dapat melihat Sang Buddha sendiri. Sang Buddha telah memastikan bahwa: "Siapa pun yang melihat Dhamma, berarti melihat Buddha". Kesaksian ini menyatakan bahwa Sang Buddha ada dan dapat benar-benar dilihat. Karena itu, memutuskan Sang Buddha sebagai pelindung, seperti yang terungkap dalam syair: "Pada Sang Buddha-lah saya berlindung" bukan berarti berlindung dalam kekosongan karena Sang Buddha sudah tidak ada. Sang Buddha benar-benar merupakan perlindungan sejati.

Metode latihan yang digunakan untuk berlindung pada Sang Buddha adalah dengan merenungkan sifat-sifat luhur yang dimiliki Sang Buddha. Atau dapat merenungkan dengan cara: Sang Buddha benar-benar telah tercerahkan, benar-benar suci, dan memiliki welas asih sejati. Beliau akan muncul dalam sifat-sifat luhur tersebut. Maka kesepian dan rasa takut akan lenyap dari pikiran seseorang. Atau jika orang merasa cemas dan tertekan, suasana hati yang demikian akan segera lenyap. frustasi mental akan lenyap; lalu akan tampak jelas cara terbaik untuk memecahkan masalah. Inilah kekuatan Buddha sejati. Yang penting adalah mempertahankan Sang Buddha dalam pikiran seseorang sebagai perlindungan sejati. Maka Sang Buddha kemudian akan muncul sebagai perlindungan bagi seseorang. Pikiran yang memiliki perlindungan itu akan bersifat hangat dan tidak kesepian; kuat dan tidak lemah; berani dan tidak takut; murni, tidak menderita dan tidak keruh. Pikiran itu cenderung memunculkan pandangan benar. Bilamana orang telah melatih konsentrasi dan pemahaman Dhamma sehingga dia dapat melihat Dhamma, maka dia akan melihat Sang Buddha dengan jelas dan jernih. Sang Buddha dan Ajaran-Nya, nyata dan dapat menjadi perlindungan yang dapat diandalkan bagi siapa pun di dunia ini.

[Dikutip dari Pengabdian Tiada Henti, 20 th Abdi Dhamma Sangha Theravada Indonesia. Naskah asli: Meaning of Refuge, Diambil dari Buku: FAITH IN BUDDHISM, Karya: H.H. Somdet Phra Ñanasamvara, Penerbit: Wat Bovoranives Vihara Bangkok, Thailand ]