Jumat, 15 April 2011

Telaga cermin

Suatu ketika di sebuah sabana, berkumpullah kelompok harimau. Di
kelompok itu, juga tinggal beberapa harimau muda yang baru mulai
belajar berburu. Ada seekor harimau muda yang terlihat menjauh dari
kelompok itu. Dia ingin mencari tantangan.

Kaki-kaki mudanya melintasi rumput-rumput yang belum terjamah.
Matanya terlihat waspada mengawasi sekitarnya. Tanpa disadari,
kakinya menuju sebuah telaga yang menjorok ke dalam. Airnya begitu
bening, memantulkan apa saja yang terlihat di atasnya. Sang harimau
muda terkejut, ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di
sana. "Hei...ada harimau lain yang tinggal di dalam air."

Kucing besar itu masih tertegun ketika melihat harimau di telaga itu
selalu mengikuti setiap gerak-geriknya. Ketika dia mundur menjauh,
harimau dalam telaga itu pun ikut menghilang. Sesaat kemudian,
harimau itu menyembulkan kepalanya, oh, ternyata harimau telaga itu
masih ada. Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada balasan senyum
dari arah telaga. "Akan kuberitahu yang lain. Ada seekor harimau
baik hati yang tinggal di tempat ini."

Kabar tentang harimau dalam telaga itu pun segera diberitahukannya.
Ada seekor harimau lain yang tertarik, dan ingin membuktikan cerita
itu. Setelah beberapa saat, sampailah dia di telaga itu. Dengan
berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan sekeliling.
Ups..kakinya hampir terperosok ke dalam telaga. Dia terlihat
mengaum, seraya menyembulkan kepalanya ke arah lubang
telaga. "Hei...ada harimau yang sedang marah di dalam sana," begitu
pikirnya dalam hati. Harimau itu kembali menyeringai, memamerkan
seluruh taring miliknya. Dia menunjukkan muka marah. Ohho, ternyata
harimau dalam telaga pun tak kalah, dan melakukan tindakan serupa.

"Ah, temanku tadi pasti berbohong." Tak ada harimau baik dalam
telaga itu. Aku hampir saja dimakannya. Lihat, wajahnya saja
terlihat marah, dan selalu menggeram. Aku tak mau berteman dengan
harimau dalam telaga itu." Harimau yang masih marah itu segera
bergegas pergi. Rupanya ia tidak menyadari bahwa harimau dalam
telaga itu, sesungguhnya adalah pantulan dari dirinya.

***

Pandangan orang lain, sama halnya dengan cermin dan telaga, adalah
pantulan dari sikap kita terhadap mereka. Dugaan dan sangkaan yang
kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari perlakuan kita terhadap
mereka. Baik dan buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan
balasan dari diri kita sendiri. Layaknya cermin dan air telaga,
semuanya akan memantulkan bayangan yang serupa. Tak kurang dan tak
lebih.

Agaknya kita perlu mencari sebuah cermin besar untuk berkaca.
Menatap seluruh wajah kita, dan mengatakan kepada orang di dalam
cermin itu. Tataplah dalam-dalam, seakan ingin menyelami seluruh
wajah itu dan berkata, "Sudahkah saya menemukan wajah yang
bersahabat di dalam sana?" Teman, cobalah menatap wajah kita dalam-
dalam, dan cobalah jujur menjawabnya, "Sudahkah kita temukan wajah
yang bersahabat di dalamnya?"

Seribu teman masih kurang... satu musuh terlalu banyak ....
Lets Make Love not War !
Lets Make Friends not Enemies !

VEGETARISME Dalam Agama Buddha

ASOSIASI BIKKHU SANGHA
“Jika kita, umat manusia, memiliki kebijaksanaan dan bisa membedakan antara baik dan buruk, kita seharusnya mempertimbangkan: menjadi manusia berarti tidak membunuh dan TIDAK TEGA UNTUK MAKAN DAGING, TULANG, DAN DARAH MAKHLUK HIDUP.”
~ Buku Kebenaran
“Kita seharusnya belajar MAKAN SAYUR-SAYURAN DAN BUAH-BUAHAN, dan biarkan pikiran kita bebas, agar kita bisa menjadi Tuhan, Buddha.”
~ Buku Kebenaran
“Jika kalian mengetahui hewan-hewan dibunuh untuk daging, tapi kita masih makan, kita sudah melakukan dosa pembunuhan.
Jika karena kita, hewan-hewan dibunuh, maka dosa itu adalah milik kita dan jiwa yang mati akan mendendam kepada kita, bukan si pembunuh.
Jika kita berkeinginan makan daging itu, itu menunjukkan kita kejam dan bengis! Karena itu, hanya hati bengis bisa makan daging atau pemakan daging memiliki hati bengis.”
~ Buku Kebenaran

BUDDHISME
“MEMAKAN DAGING MERUSAK BENIH WELAS KASIH dan setiap tindakan dari pemakan daging akan membuat takut semua makhluk karena bau daging di tubuhnya.”
~ Sutra Mahaparinirvana
Aku menetapkan bahwa kalian JANGAN MAKAN DAGING BAHKAN DAGING yang tidak disalahkan dalam tiga aspek. Bahkan daging-daging di luar sepuluh jenis [yang dulunya dilarang] harus ditinggalkan. Daging mayat juga harus ditinggalkan...
Semua makhluk bisa mengenali seseorang yang makan daging dan, ketika mereka mencium bau badannya, mereka ketakutan oleh kengerian akan kematian.
Ke mana pun orang itu pergi, makhluk-makhluk di dalam air, di atas tanah yang kering atau di angkasa ketakutan.
Memikirkan mereka akan dibunuh oleh orang itu, mereka bahkan pingsan atau mati.
Karena alasan-alasan ini, BODHISATWA-MAHASATWA (MAKHLUK AGUNG) TIDAK MAKAN DAGING.
Meskipun mereka tampak makan daging demi kepentingan orang yang akan diubahnya, karena mereka sebenarnya tidak makan makanan biasa apalagi daging!
~ Sutra Mahaparinirvana
Bikkhu-bikkhu, pengikut rumah tangga tidak boleh bekerja dalam lima jenis usaha.
Kelima usaha yang mana?
Usaha persenjataan,
usaha perbudakan,
USAHA DAGING,
Dan usaha bahan-bahan racun.
~ Sutta Vanijja
Ananda, jika makhluk hidup dari enam jalur kehidupan berhenti membunuh, mereka tidak akan tunduk kepada perputaran kelahiran dan kematian yang terus-menerus….
Maka bagaimana bisa orang yang berlatih cinta kasih agung memakan daging dan meminum darah makhluk hidup?
~ Sutra Surangama
Jika seorang manusia bisa (mengendalikan) tubuh dan pikiran dan karenanya MENGHINDARI MAKAN DAGING dan tidak mengenakan produk-produk hewan, saya berkata dia sungguh akan dibebaskan. Ajaranku ini adalah dari Buddha sebaliknya yang lain adalah dari iblis.
~ Sutra Surangama
Ananda, para praktisi yang ingin masuk tingkat Samadhi (Persekutuan Suci) harus pertama-tama mematuhi dengan ketat peraturan-peraturan kehidupan suci untuk memotong nafsu pikiran DENGAN MENGHINDARI DAGING DAN ARAK…
Ananda, jika mereka tidak berpantang dari kesenangan jasmani dan pembunuhan, mereka tidak akan terlepas dari tiga dunia.
~ Sutra Surangama
Pada waktu itu, Arya (makhluk suci) Bodhisatwa-Mahasatwa Mahamati berkata kepada Buddha: “Bhagawa (Yang Terhormat Di Dunia), aku melihat bahwa di seluruh dunia, pengembaraan kelahiran dan kematian, melilitnya permusuhan, dan kejatuhan ke jalur jahat, semua disebabkan oleh makan daging dan pembunuhan siklis.
Tingkah laku itu menambah ketamakan dan amarah, dan membuat makhluk hidup tidak bisa terlepas dari penderitaan. Itu sungguh sangat menderita.”
~ Sutra Lankavatara
“Bhagawa, ORANG YANG MAKAN DAGING MELENYAPKAN BENIH WELAS ASIH AGUNG kepunyaannya, sehingga ORANG YANG BERLATIH JALUR SUCI SEHARUSNYA TIDAK MAKAN DAGING.”
~ Sutra Lankavatara
Buddha memberitahu Mahamati: “MAKAN DAGING ADALAH PELANGGARAN TAK TERHITUNG BANYAKNYA. Semua Bodhisatwa (para praktisi rohani) harus membina kemurahan hati dan welas asih yang agung oleh karena itu mereka seharusnya tidak makan daging.
~ Sutra Lankavatara
“Mereka yang meninggalkan rasa daging bisa merasakan cita rasa Dharma sejati (ajaran-ajaran sejati), dengan sungguh-sungguh berlatih Bhumi (tingkatan) dari Bodhisatwa (praktisi rohani), dan dengan cepat meraih Anuttara-Samyak-Sambodhi (Pencerahan sempurna tertinggi).
~ Sutra Lankavatara
“Mahamati, saya melihat bahwa makhluk hidup dalam perputaran enam jalur kehidupan, tinggal bersama-sama dalam kelahiran dan kematian, mereka melahirkan dan mengasuh satu sama lain, dan secara siklis menjadi ayah, ibu, kakak dan adik satu sama lain…
Mereka juga mungkin terlahir di jalur-jalur kehidupan lain (hewan, hantu, dewa, dan sebagainya.), baik atau jahat, mereka selalu menjadi saudara satu sama lain. Karena hubungan ini, saya melihat bahwa SEMUA DAGING YANG DIMAKAN OLEH MAKHLUK HIDUP ADALAH SAUDARANYA SENDIRI.
(* Enam jalur kehidupan: dewa, manusia, Asura, hewan, hantu kelaparan, makhluk neraka)
~ Sutra Lankavatara
“Jika siapa pun di antara murid-muridku tidak dengan jujur mempertimbangkan itu dan masih makan daging, kita harus mengetahui bahwa dia adalah candela (pemutus) silsilah keturunan.
Dia bukanlah muridku dan saya bukanlah gurunya.
Oleh karena itu, Mahamati, siapapun saja ingin menjadi saudaraku, dia tidak boleh makan daging apa pun.”
~ Sutra Lankavatara
“Bodhisatwa (para praktisi rohani) harus mengetahui dengan jelas bahwa SEMUA DAGING BERASAL DARI TUBUH YANG KOTOR, adalah campuran nanah, darah, kotoran, cairan mani, cairan menstruasi dari orang tuanya.
Dengan demikian, memahami KEKOTORAN DAGING, BODHISATWA SEHARUSNYA TIDAK MAKAN DAGING.”
~ Sutra Lankavatara
“Semua daging adalah seperti bangkai makhluk hidup…. masakan daging adalah busuk dan kotor seperti bangkai hangus, jadi bagaimana kita dapat makan benda seperti itu?”
~ Sutra Lankavatara
“Makan daging bisa menaikkan nafsu, para pemakan daging adalah rakus….Karena naluri melindungi dan menghargai kehidupan, adalah sama di antara manusia dan hewan….
Karena setiap makhluk hidup, dia sendiri takut mati, bagaimana dia bisa makan daging makhluk lain?…
Siapa pun yang ingin makan daging pertama-tama harus memahami penderitaan dari memotong tubuhnya sendiri, dan kemudian memahami penderitaan dari seluruh makhluk hidup, dan kemudian BERHENTI MAKAN DAGING.”
~ Sutra Lankavatara
“Mahamati, di masa depan, akan ada orang-orang yang gelap batin mengatakan bahwa banyak peraturan Buddha membolehkan makan daging. Mereka menyukai rasa daging karena terbiasa makan daging di masa lampau, mereka mengatakan itu hanya berdasarkan pandangan mereka sendiri. Tapi kenyataannya BUDDHA DAN PARA SUCI TAK PERNAH BERKATA DAGING ADALAH MAKANAN.”
~ Sutra Lankavatara
"Pemakan daging punya begitu banyak pelanggaran yang tak terbilang, jadi PARA VEGETARIAN PUNYA PAHALA DAN KEBAJIKAN YANG TAK TERBILANG."
~ Sutra Lankavatara
"Jika tiada yang makan daging, maka tiada yang membunuh makhluk hidup untuk makanan...
Pembunuhan adalah untuk para pembeli, maka pembeliannya adalah sama dengan pembunuhan. Oleh karena itu, MAKAN DAGING DAPAT MENGHALANGI JALAN SUCI."
~ Sutra Lankavatara
Adapun di dalam Sutra Lankavatara ini saya katakan, sepanjang waktu, segala jenis daging tidak dapat dimakan, tanpa kecuali. Mahamati, saya melarang makan daging bukan hanya satu kali, maksud saya ke-dua²nya DI MASA KINI DAN MASA DEPAN, MAKAN DAGING DILARANG."
~ Sutra Lankavatara
Seorang murid Buddha TIDAK BOLEH DENGAN SENGAJA MAKAN DAGING. Ia seharusnya tidak makan daging makhluk hidup apa pun. Pemakan daging kehilangan benih Welas Asih Agung, memutuskan benih Hakikat Kebuddhaan dan menyebabkan mahluk² [hewan dan transendental] menghindari dia. Mereka yang berbuat demikian adalah bersalah dengan pelanggaran-pelanggaran tak terbilang.
~ Sutra Brahmajala
Juga, setelah kelahiran bayi, haruslah bertindak dengan hati-hati agar tidak membunuh hewan dalam rangka memberi makan si ibu dengan makan²an daging dan tidak berkumpul dengan banyak sanak keluarga untuk minum arak atau makan daging…sebab pada masa sulit kelahiran banyak sekali setan-setan jahat, monster-monster serta hantu-hantu yang ingin memakan darah-darah bau, dan itu adalah saya yang perintahkan, pada awalnya, para dewa-dewi dan makhluk surgawi yang menangani masalah rumah tangga dan tanah untuk melindungi sang ibu dan anak, membuat mereka aman dan bahagia dan memberi manfaat bagi mereka.
Akan tetapi, beberapa orang, setelah melihat sang ibu dan anak sudah aman dan bahagia, lalu secara kolektif memberi persembahan sebagai rasa terima kasih kepada dewa-dewi tanah setempat, dengan secara buta dan bertentangan memilih membunuh hewan-hewan untuk dikonsumsi dan, dengan demikian mereka mendapat kutukan untuk mereka sendiri, yang merugikan baik bagi sang ibu dan anaknya.
~ Sutra Kritigarbha
Semua orang takut akan hukuman, semua orang takut kematian. Mempersamakan orang lain seperti diri kita, seseorang tidak seharusnya membunuh atau menyebabkan pembunuhan.
~ Sutra Dhammapada
Seseorang menjadi tidak agung karena dia melukai makhluk-makhluk hidup. Dia disebut agung karena dia tidak menyakiti makhluk-makhluk hidup.
~ Sutra Dhammapada
Kasyapa bertanya kepada sang Buddha: “Kenapa Tuhan sebelumnya izinkan Bhiksu (biarawan) untuk makan ‘tiga daging murni’ atau bahkan ‘sembilan daging murni’?” Buddha menjawab, “Itu sangat tergantung pada keperluaan saat itu, dan sebagai langkah pelan-pelan menuju perhentian total dari memakan daging.”
~ Buddha Shakyamuni, Sutra Nirvana

Rabu, 13 April 2011

Kisah Nigamavasitissa

Nigamavasitissa lahir dan dibesarkan di suatu kota dagang kecil dekat Savatthi. Setelah menjadi seorang bhikkhu, dia hidup dengan sederhana, dengan mempunyai hanya sedikit keinginan
Untuk berpindapatta, beliau biasanya pergi ke desa tempat saudaranya tinggal dan mengambil apa yang disediakan untuknya. Nigamavasitissa selalu melewatkan kesempatan menerima banyak dana makanan lainnya. Meski ketika menerima banyak dana makanan lainnya. Meski ketika Anathapindika dan Raja Pasenadi dari Kosala memberikan dana makanan dalam jumlah besar kepada para bhikkhu, Nigamavasitissa tidak mau pergi ke sana.
Beberapa orang bhikkhu kemudian membicarakan hal tersebut. Bahwa beliau lebih dekat dengan saudara-saudaranya dan tidak memperdulikan orang lain seperti Anathapindika dan Raja Pasenadi, yang ingin berbuat jasa dengan memberikan dana makanan.
Ketika Sang Buddha menerima laporan ini, Beliau mengundang Nigamavasitissa dan menanyakan hal itu.
Bhikkhu Nigamavasitissa dengan penuh hormat, menjelaskan kepada Sang Buddha, bahwa memang benar ia sering mengunjungi desanya, tetapi hanya pada saat berpindapatta. Ketika dia telah mendapatkan makanan yang cukup, dia tidak akan berjalan lebih jauh lagi, dan dia tidak pernah mempersoalkan apakah makanan itu enak atau tidak.
Sang Buddha tidak menegur setelah mendengar penjelasan bhikkhu Nigamavasitissa, bahkan Beliau menghargai tindakannya dan menceritakannya kepada bhikkhu yang lain.
Beliau bahkan menganjurkan kepada murid-muridnya, untuk hidup puas dengan sedikit keinginan, sesuai dengan ajaran Buddha dan para Ariya, dan begitulah semua bhikkhu seharusnya, mencontoh tindakan bhikkhu Tissa dari kota dagang kecil.
Berkenan dengan ini, Beliau menceritakan kisah Raja dari burung nuri.
Pada masa dahulu kala, tinggallah raja burung nuri di lobang sebuah pohon besar yang tumbuh di muara sungai Gangga, dengan sejumlah besar pengikutnya. Ketika buah-buahan telah habis dimakan, semua burung nuri pergi meninggalkan lobang tersebut, kecuali sang raja, yang puas pada apa yang masih tersisa di pohon tersebut.
Sakka, mengetahui hal ini, dan ingin menguji ketulusan hati raja nuri tersebut. Sakka pergi ke pohon tersebut dengan kekuatan supranaturalnya. Kemudian, dengan menyamar sebagai angsa, Sakka dan permaisurinya, Sujata, mengunjungi tempat dimana raja nuri tersebut tinggal dan menanyakan kenapa dia tidak meninggalkan pohon tua tersebut seperti yang telah dilakukan nuri lain; mencari pohon lain yang berbuah lebat.
Raja nuri menjawab, "Karena perasaan terima kasih kepada pohon ini, aku tidak akan meninggalkannya, dan selama aku masih dapat makanan yang cukup, aku tidak akan meninggalkannya. Akan tidak berterima kasih sekali, jika aku meninggalkan pohon ini, meskipun pohon ini akan mati."
Sakka sangat terkesan dengan jawaban tersebut, dia menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Dia mengambil air dari sungai Gangga dan menyiramkannya di sekitar pohon tersebut. Segera pohon itu menjadi segar kembali; tumbuh kembali dengan cabang-cabang yang rimbun dan hijau, penuh dengan buah.
Sangat bijaksana, meskipun seekor binatang tidak rakus, mereka puas dengan apa yang tersedia. Raja nuri yang ada dalam kisah itu adalah Sang Buddha sendiri; Sakka adalah Anuruddha.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 32 berikut ini:
Seorang bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan,
dan melihat bahaya dalam kelengahan,
tak akan terperosok lagi,
Ia sudah berada di ambang pintu nibbana.
Tissa Thera mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Hukum Karma

Hukum Karma
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera
Dalam kegiatan sehari-hari kita sering mendengar kata "Karma". Panggunaan kata "Karma" ini pada umumnya ditujukan untuk manggambarkan hal-hal yang tidak baik; karma selalu dihubungkan dengan karma buruk. Padahal sebetulnya karma bukan hanya karma buruk tetapi juga ada karma baik. Selain sebagai karma buruk, konsep karma juga sering diidentikkan sebagai satu-satunya penyebab kejadian. Kita menganggap setiap keadaan buruk selalu disebabkan oleh karma, semuanya tergantung pada karma. Konsep yang demikian ini dapat berakibat menurunkan semangat juang atau semangat hidup kita. Padahal karma bukan satu-satunya penyebab kejadian, melainkan hanya salah satunya; masih terdapat banyak faktor yang ikut menentukan dan menyebabkan karma berbuah. Konsep yang menganggap bahwa karma selalu karma buruk dan sebagai satu-satunya penyebab kejadian ini dapat dikatakan sebagai suatu pandangan yang salah dan merupakan kelemahan terhadap penjelasan hukum karma.
Apakah sesungguhnya karma itu? Karma adalah niat untuk melakukan perbuatan. Niat itulah yang disebut dengan karma! Perbuatan yang dilakukan dengan pikiran disebut karma melalui pikiran; perbuatan yang dilakukan dengan ucapan disebut karma melalui ucapan; dan perbuatan yang dilakukan dengan badan disebut karma melalui badan. Dengan demikian karma bisa berupa karma baik dan karma buruk.
Kemudian timbul satu pertanyaan, apakah yang disebut hukum karma? Hukum karma sebetulnya adalah hukum sebab dan akibat. Di dalam Samyutta Nikaya dinyatakan:
"Sesuai dengan benih yang ditabur, demikian pulalah buah yang dituai. Mereka yang menanam kebajikan akan tumbuh kebahagiaan."
Kalau kita melihat dengan kacamata duniawi, pernyataan Dhammapada tersebut tampak bertolak belakang dengan fenomena yang ada. Kita sering menemukan orang yang banyak melakukan kebajikan tetapi masih mengalami penderitaan, dan sebaliknya. Mengapa demikian? Apakah hukum karma-nya keliru? Sebetulnya tidak keliru! Kalau hukum karma diumpamakan sebagai sebuah sawah yang mempunyai tanaman padi dan jagung, di mana tanaman padi dan jagung tersebut mempunyai usia panen yang berbeda, maka tanaman jagung tentu akan panen terlebih dahulu daripada tanaman padi. Demikian pula perbuatan baik dan buruk. Kalau kita sudah berbuat baik tetapi masih menderita, ini disebabkan karena perbuatan baik kita belum saatnya dituai/dipanen. Dalam hal ini kita memetik buah dari perbuatan buruk terlebih dahulu. Jadi semua itu ada waktunya, walaupun adakalanya masih bisa dipercepat sampai batas-batas tertentu.
Selanjutnya bagaimanakah karma kalau dilihat menurut waktunya? Menurut waktunya, karma dapat kita bedakan menjadi 4 (empat) kelompok, sebagai berikut:
a). Karma yang langsung berbuah
Misalnya kita mencuri helm milik orang lain, karena helm kita dicuri seseorang. Supaya tidak ketahuan, kita mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi walaupun lampu lalu lintas berwarna merah. Akhirnya kita ditangkap polisi. Terpaksa kita harus membayar tilang Rp 15.000,- (padahal harga sebuah helm hanya Rp 10.000,-). Ini adalah karma yang langsung berbuah.
b). Karma yang berbuah agak lama tetapi masih dalam satu kehidupan. Misalnya orang yang melakukan meditasi hingga tingkat jhana yang tinggi sekali, setelah meninggal langsung terlahir di alam brahma.
c). Karma yang berbuah pada kehidupan-kehidupan yang berikutnya. Misalnya orang yang sering mendengarkan Dhamma pasti akan terlahir di alam sorga dalam kehidupan-kehidupan yang berikutnya. Mengapa demikian? Dengan mendengarkan Dhamma berarti kita melatih dana perhatian. Pikiran, ucapan dan perbuatan kita terjaga dengan baik pada saat itu. Kita bisa mengerti dan melaksanakan Dhamma. Bahkan hal ini amat sesuai dengan salah satu sutta Sang Buddha, bahwa mendengarkan Dhamma pada saat yang tepat adalah berkah utama.
d). Karma yang tidak sempat berbuah karena kehabisan waktu atau kehilangan kesempatan untuk berbuah. Sering ada orang yang mengatakan bahwa tercapainya Nibbana apabila karma baik dan buruk telah habis. Padahal karma itu tidak mungkin habis karena jumlahnya tidak terbatas. Tetapi karma bisa dipotong! Kita bisa merasakan karma apabila kita mempunyai badan dan batin, artinya kita dilahirkan. Kalau kita tidak dilahirkan kembali, kesempatan untuk merasakan karma baik dan buruk menjadi tidak ada. Akhirnya ada karma yang tidak sempat berbuah.
Selain menurut waktu, karma juga dapat dibedakan menurut fungsinya, yaitu:
a). Fungsi karma yang melahirkan
Misalnya: ada orang yang dilahirkan dalam kondisi mempunyai banyak penyakit. Kenapa terjadi demikian? Sesuai dengan benih yang ditanam, demikian pula buah yang dituainya; karena ada penyiksaan maka bisa terlahir sakit-sakitan.
b). Fungsi karma yang mendukung
Karma ini mendukung fungsi karma yang melahirkan. Misalnya; selain terlahir di keluarga yang miskin, dia juga terlahir dalam keadaan cacat. Ini adalah karma yang mendukung.
c). Fungsi karma yang mengurangi
Fungsi karma yang mengurangi ini berhubungan dengan perbuatan kita saat ini. Misalnya; meskipun miskin dan cacat, orang tersebut mempunyai sila yang baik.
d). Fungsi karma yang memotong
Karena silanya baik, ucapannya baik, tingkah lakunya baik, maka ada orang yang simpati kepadanya. Orang tersebut diberi pekerjaan yang sesuai dengan keadaannya. Ini adalah karma yang memotong, artinya bertentangan dengan yang sedang terjadi. Karma juga berhubungan dengan perbuatan saat ini. Apa yang terjadi pada saat ini, itulah yang menentukan karma kita. Jadi karma bukanlah nasib! Karma masih bisa diperbaiki dan diubah dengan melihat fungsi karma karena karma adalah niat berbuat. Perbuatan itulah yang paling penting!
Selanjutnya karma juga dapat dikelompokkan menurut bobotnya yaitu:
a). Bobot karma super berat
Karma super berat yang baik misalnya; orang yang mencapai jhana, setelah meninggal langsung terlahir di alam brahma; atau memperoleh pañña yang berarti tercapainya Nibbana. Sedangkan super berat yang buruk ada 5 (lima) yaitu membunuh ayah, membunuh ibu, membunuh seorang Arahat, melukai Sammasambuddha, dan memecah belah Sangha. Apabila salah satunya dilakukan maka setelah meninggal orang tersebut langsung terlahir di alam neraka.
b). Karma yang muncul pada saat kematian
Di dalam pikiran akan terjadi satu seleksi pada saat proses kematian yaitu mengingat perbuatan yang pernah berkesan di dalam diri kita. Misalnya; sebelum meninggal, seseorang teringat bahwa dia sering mendengarkan Dhamma, sering bertemu bhikkhu-bhikkhu dan meninggal dalam keadaan bahagia maka orang tersebut akan terlahir di alam bahagia. Sebaliknya kalau kesannya tidak baik, orang tersebut dapat terlahir di alam menderita.
Sehubungan dengan proses kematian ini, Sang Buddha menyatakan bahwa apabila kita bisa melihat 4 (empat) tempat suci di India yaitu tempat Sang Buddha dilahirkan, mencapai kesucian, membabarkan Dhamma, dan wafat-Nya maka ketika meninggal, pikiran kita diliputi kebahagiaan. Kita bisa terlahir di alam bahagia. Inilah sebabnya mengapa kalau ada yang mau meninggal diadakan sembahyangan. Tujuannya supaya orang tersebut mengingat perbuatan-perbuatan baik yang pernah dilakukannya sehingga dapat terlahir di alam bahagia. Dengan demikian sesungguhnya manfaat berpikir positif pada saat kematian adalah paling penting karena kalau kita berpikir positif pada kematian, kita akan terlahir di alam bahagia.
c). Kalau di dalam proses kematian itu tidak ada yang berkesan atau tidak sempat terpikir, misalnya karena meninggal dalam keadaan koma maka yang berbuah adalah kebiasaannya. Umpamanya orang yang mempunyai kebiasaan latah maka seandainya setelah meninggal terlahir menjadi manusia, dia akan menjadi orang yang suka humor.
d). Bobot yang super ringan atau kecil
Apabila karma yang super berat, karma pada saat kematian, dan karma kebiasaan tidak muncul maka karma yang super ringan yang akan berbuah. Misalnya; pada suatu waktu kita melihat ada paku payung di jalan lalu kita singkirkan supaya tidak mencelakakan orang lain. Ini adalah bobot yang super ringan. Apabila bobot yang super ringan ini muncul pada saat kematian dan kita merasa bahagia karena bisa menolong orang lain maka kita akan terlahir di alam bahagia.
Dengan demikian, karma sebetulnya terdiri atas 12 (dua belas) jenis. Masing-masing dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu menurut waktu, fungsi dan bobot, dimana setiap kelompok karma dibagi menjadi 4 (empat) bagian. Tetapi 12 (dua belas) jenis karma ini tidak berdiri sendiri-sendiri melainkan menjadi satu kesatuan. Oleh karena itu segala sesuatunya belum tentu disebabkan oleh karma.

20 Ajaran Welas Asih Kuan Se Im Phu Sa

20 Ajaran Welas Asih Kuan Se Im Phu Sa
(Avalokitesvara Bodhisatva) :

1. Jika orang lain membuatmu susah, anggaplah itu tumpukan rejeki.

2. Mulai hari ini belajarlah menyenangkan hati orang lain.

3. Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu dgn suatu tujuan, itulah bahagia.

4. Lari dan berlarilah untuk mengejar hari esok

5. Setiap hari kamu sudah harus merasa puas dengan apa yang kamu miliki saat ini.

6. Setiapkali ada orang memberimu satu kebaikan, kamu harus mengembalikannya sepuluh kali lipat.

7. Nilailah kebaikan orang lain kepadamu, tetapi hapuskanlah jasa yang pernah kamu berikan pada orang lain.

8. Dalam keadaan benar kamu difitnah, dipersalahkan dan dihukum, maka kamu akan mendapatkan pahala.

9. Dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan, itu merupakan hukuman.

10. Orang yang benar kita bela tetapi yang salah kita beri nasehat.

11. Jika perbuatan kamu benar, kamu difitnah dan dipersalahkan, tapi kamu menerimanya, maka akan datang kepadamu rezeki yang berlimpah-ruah.

12. Jangan selalu melihat / mengecam kesalahan orang lain, tetapi selalu melihat diri sendiri itulah kebenaran.

13. Orang yang baik diajak bergaul, tetapi yang jahat dikasihani.

14. Kalau wajahmu senyum hatimu senang, pasti kamu akan Aku terima.

15. Dua orang saling mengakui kesalahan masing-masing, maka dua orang itu akan bersahabat sepanjang masa

16. Saling salah menyalahkan, maka akan mengakibatkan putus hubungan.

17. Kalau kamu rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaan susah, maka jangan sampai diketahui bahwa kamu sebagai penolongnya.

18. Jangan membicarakan sedikitpun kejelekan orang lain dibelakangnya, sebab kamu akan dinilai jelek oleh si pendengar.

19. Kalau kamu mengetahui seseorang berbuat salah, maka tegurlah langsung dengan kata-kata yang lemah lembut sehingga orang itu insaf.

20. Doa dan sembah sujudmu akan aku terima, apabila kamu bisa sabar dan menuruti jalanku.

-------------------------------------------------------------------------
20 Doctrine of Compassion Kuan Se Im Phu Sa
(Avalokitesvara Bodhisatva) :

1. If someone else makes you hard, let's say it stacks fortune.

2. Starting today learn to please others.

3. If you feel bitter in your life with a purpose, that's happy.

4. Ran and ran to catch up tomorrow

5. Every day you had to feel satisfied with what you have today.

6. Whenever someone gives you a kindness, you must return it tenfold.

7. Assess the kindness of others to you, but never blot out the services you give to others.

8. In the right circumstances you vilified, blamed and punished, then you will get the reward.

9. In any circumstances you praised and justified, it is a punishment.

10. People who defend our right but we give the wrong advice.

11. If you act right, you are vilified and blamed, but you accept it, then it will come to you abundant sustenance.

12. Do not always see or criticize the faults of others, but always see themselves that's the truth.

13. Good people to get along, but an evil to be pitied.

14. If your heart smile happy face, I'm sure you will receive.

15. Two mutually recognize each mistake, the two men are friends of all time it would

16. Blaming each other wrong, it will lead to a breakup.

17. If you are willing and sincere to help people in difficult circumstances, so do not mind that you as his salvation.

18. Do not talk about the least evil of others behind them, because you will be judged badly by the listener.

19. If you know someone doing wrong, then a direct rebuke with the words gentle so that the person is conscious.

20. Prayer and worship and instead will I receive, if you can be patient and follow my path.