Senin, 11 April 2011
Kisah Alvaska
Pertengkaran Antar Suku
Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya
Jumat, 08 April 2011
Cerita Angsa dan Kura-Kura
Ada sepasang Kura-Kura dan Angsa yang hidup di sebuah telaga yang bernama telaga Kumudawati. Telaga itu sangat indah serta banyak bunga-bunga berwarna-warni yang tumbuh di sana. Kura-kura yang jantan bernama Durbhuddhi dan yang betina bernama Katcapa. Angsa yang jantan bernama Cakrengga dan yang betina bernama Cakrenggi. Kedua pasang binatang itu sudah lama bersahabat.
Musim kemarau telah tiba, di telaga telah mulai mengering. Kedua angsa akan berpamitan dengan sahabatnya karena angsa tidak bisa hidup tanpa air, maka kami akan meninggalkan telaga Kumdawati ini menuju telaga Manasasaro di pegnungan Himalaya. Kura-kura tidak bisa melepaskan kepergian kedua sahabatnya itu.
Akhirnya kura-kura memutuskan untuk ikut bersama dengan angsa. Angsa kemudian mau mengajak kura-kura pergi bersama dengan dirinya yaitu dengan cara kura-kura menggigit tengah-tengah kayu dan angsa yang akan memegang ujung-jungnya. Tetapi dengan persyaratan jangan lengah, janganlah sekali-kali berbicara dan jangan melihat di bawah atau jika ada orang yang bertanya jangan sekali menjawab. Kura-kura lalu berpegangan di tengah-tengah kayu dengan mulutnya, sedangkan kedua ujung-ujungnya dipegang oleh angsa.
Setelah tepat berada di tanah lapang Wila Jenggala ada sepasang anjing srigala yang berlindung di bawah pohon mangga yang jantan bernama Si Nohan dan yang betina Si Bayan. Srigala betina melihat ke atas dilihatnya angsa terbang membawa sepasang kura-kura lalu Srigala berkata pada suaminya, ayah cobalah lihat ke atas betapa aneh angsa terbang membawa sepasang kura-kura. Srigala jantan menjawab itu bukan kura-kura namun itu adalah kotoran sapi. Demikian omongan tersebut didengar oleh kura-kura, mendengar kura-kura dibilang kotoran sapi oleh Srigala, kura-kura lalu marah dan melepaskan gigitannya pada kayu dan akhirnya kura-kura itu jatuh dan dimakan oleh srigala. Angsa tinggal dengan perasaan kecewa dan menyayangkan kenapa kura-kura tidak mau mendengarkan nasehatnya.
Kamis, 07 April 2011
Kejujuran Raja Sutasoma
Pada suatu hari Raja Porisada ingin melaksanakan sumpahan ketika sebuah duti mengganggu kakinya; dimana ia bersumpah akan mengorbankan seratus orang prajurit kepada dewanya. Dewa itu sendiri menyesalkan niat Porisada, maka untuk mengindarkan pengorbanan manusia sebanyak itu, Porisada diperintahkan untuk mengorbankan Raja Sutasoma saja.
Kebetulan Raja Sutasoma yang menuju ke sebuah danau akan mandi, berjumpa dengan seorang brahmana yang bermaksud untuk membacaykan syair-syairnya untuk raja. Maha sutasomo mempersilakan brahmana tersebut menunggu di istana san akan mendengarkan syair-syairnya setelah selesai mandi. Sewaktu selesai mandi, keluarlah raja Porisada dari semak-semak dan membawa lari raja Sutasoma. Raja tidak gentar dan tetap tenang, hasnya menyesal tidak dapat menempati janjinya untuk mendengarkan syair-syair sang brahmana. Hal ini dinyatakannya kepada Porisada, yang kemudian melepaskan sang Raja dengan perjanjian akan kembali lagi apabila janji kepada brahama itu telah ditepati.
Raja Sutasomo kembali ke Istana, mendengarkan syair-syair sang brahmana, dan memberikanya hadiah. Meskipun telah ditahan tahan oleh seluruh anggota istana, Raja yang tetap hatinya itu menuju hutan menemui Porisada kembali. Porisada sedang menyiapkan api, heran melihat Raja Sutasoma datang kembali. Katanya, "Gila kau, saya lepasklan kau dengan tidak mengharapkan kau kembali lagi. Sekarang kau kembali, mengertilah bahwa kau akan ku bunuh juga. Mengapa kembali?" Sang Raja menjawab: "Hai Porisada, menurut pendirianmu aku berbuat gila, tetapi aku tetap memenuhi janjiku. Aku berjanji akan kembali dan di sinihlah aku kembali. Aku lebih menghargai janjiku daripada hidupku, kau boleh mengorbankan aku". Parisada yang dalam batinya sesungguhnya tidak jahat, sangat terharu mendengar jawaban Sutasoma yang mempunyai ketetapan hati itu dan ingin mendengarkan ajaran ajaran utama. Segera ia duduk pada kaki Sutasoma dan asyik mendengarkan petuah-petuah yang berharga. Seketika ia berubah menjadi orang baik kembali, ia mengurungkan pergorbanannya kemudian mendapatkan kembali kerajaanya yang semula dan memerintah dengan bijaksana.
Sabda Sang Bodhisatva*) "Sesudah mendapatkan penerangan, untuk memenuhi janjiKu, Aku mengorbankan nyawaKu dan menyelamatkan seratus satu orang prajurit raja. Itulah kesempurnaanKu dalam menepati janji".
*) Sang Bodhisattva sebagai Raja Maha Sutasoma kemudian dikenal sebagai Buddha Gotama. Cerita di atas digambarkan di dalam Candi Borobudur dalam relief pada serambi pertama dinding luar deret atas dari pintu gerbang Selatan ke jurusan Barat pada relief nomor 23,24,25 dan 26.
(Kiriman: Dra Harumwati K, Tangerang. Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma, atas izin Ir. Lindawati T)