Rabu, 21 Maret 2012
Karaniya Metta Sutta
Senin, 28 November 2011
SONA [Bhikkhu Yang Berlatih Terlalu Keras]
SONA [Bhikkhu Yang Berlatih Terlalu Keras]
Putra seorang pengusaha kaya, Sona, senang mendengar musik kecapi dan memainkan alat musik tersebut. Karena ia di besarkan dalam kemewahan, kulit tubuhnya menjadi sangat lembut dan halus. Dikatakan bahwa bulu badan pun tumbuh di telapak kakinya, Suatu kali ia dibawa menghadap kepada raja Bimbisara yang ingin melihat kaki yang tidak biasa itu, seperti begitu sering ia dengar.
Sona tinggal di dekat Puncak Bukit Burung Nazar di Rajagaha, di mana Sang Buddha tinggal selama beberapa vassa. Suatu hari, Sona pergi ke Puncak bukit Burung Nazar untuk mendengar khotbah Sang Buddha tentang kebahagiaan yang akan di alami langsung karena ketiadamelekatan terhadap keinginan-keinginan yang bersifat duniawi. karena ia ingin mengalaim kebahagiaan ini, Sona meminta agar ia di tabhiskan sebagai bhikkhu.
Setelah menjadi seorang Bhikkhu, ia diajar untuk selalu sadar (penuh sati/perhatian-murni) secara terus-menerus, bahkan ketika sedang berjalan. Sona sangat antusias. Setiap hari ia berjalan mondar-mandir di dalam vihara hingga suatu hari kakinya melepuh dan berdarah. Meskipun sudah berlatih begitu keras, ia masih tidak mngalami kebahagiaan, tetapi hanya rasa sakit adn kekecewaan. Pikiran-pikiran tentang keinginan-keinginan terhadap hal-hal duniawi masuk ek dalam batinnya."Ini tidak berguna", kata Sona pada dirinya,"Saya sudah berlatih dengan demikian keras, tetapi tetap tidak dapat mencapai apa yang saya harapkan. Lebih baik saya kembali ke kehidupan awam dan menikmati kebahagiaan yang dulu saya alami dengan berbuat amal".
Ketika Sang Buddha mendengar tentang hal ini, Beliau pergi untuk melihat Sona. "Sona", tegur Sang Buddha, "Tathagata telah mendengar bahwa engkau tidak mendapat hasil yang baik dari latihan kesadaranmu dan ingin kembali ke kehidupan awam. Seandainya Tathagata menjelaskan mengapa engkau tidak mendapatkan hasil-hasil yang bagus, maukan engkau tetap menjadi bhikkhu dan berlatih kembali?" "Ya, saya mau, Bhante",jawab Sona. "Sona, engkau adalah pemusik dan engkau biasanya memainkan kecapi. Katakan pada Tathagata,Sona, apakah engkau menghasilkan musik yang bagus bilamana senar-senar kecapi disetel dengan baik, tidak terlalu kencang, tidak pula terlalu kendor?"
"Saya dapat menghasilkan musik yang bagus, Bhante", jawab Sona. "Apa yang terjadi bilamana senar-senarnya diputar terlalu kencang?" "Saya tidak dapat menghasilkan musik apapun, Bhante",jawab Sona. "Sona, apakah sekarang engkau mengerti mengapa engkau tidak dapat mengalami kebahagiaan dari pelepasan nafsu-keinginan duniawi? engkau telah memaksa terlalu keras dalam meditasimu. lakukanlah itu dalam cara yang relaks, tetapi tidak kendor.
Cobalah lagi dan engkau akan mengalaim hasil-hasil yang bagus". Sona mengerti dan tetap tinggal di vihara sebagai seorang Bhikkhu, dan dalam waktu yang singkat ia mencapai tingkat kesucian.
Tiga Hal yang aku jaga dalam hidupku
aku hidup sederhana sewajarnya,aku harus menjalankan tekadku menjalankan parami, dan aku tidak akan mencari rahasia alam semesta...
Minggu, 06 November 2011
Kisah Raja Naga Erakapatta
2. Apakah seseorang yang diliputi oleh kabut kekotoran moral dapat disebut sebagai seorang penguasa?
3. Penguasa apakah yang bebas dari kekotoran moral?
4. Orang yang seperti apakah yang disebut tolol?
2. Seseorang yang diliputi oleh kabut kekotoran moral tidak dapat disebut seorang penguasa; ia yang bebas dari kemelekatan disebut seorang penguasa.
3. Penguasa yang bebas dari kemelekatan adalah yang bebas dari kekotoran moral.
4. Seseorang yang menginginkan kesenangan-kesenangan hawa nafsu adalah yang disebut tolol.
Sumber:
Senin, 08 Agustus 2011
Sabtu, 02 Juli 2011
Sikap Sang Buddha terhadap Guru-guru agama lain [Upali]
Upali, seorang jutawan, adalah salah seorang murid terbaik dari guru agama lain yang bernama Nigantha Nathaputta, yang ajarannya berbeda dengan ajaran Sang buddha. Karena sangat mahir dalam hal berdebat, Upali di minta oleh guru agamanya untuk mendekati Sang Buddha dan mengalahkan Beliau dengan pokok-pokok tertentu tentang Hukum sebab-Akibat (Kamma-vipaka). Setelah melewati diskusi yang panjang, Sang Buddha mampu meyakinkan Upali bahwa pandangan-pandangan dari guru agamanya adalah keliru.
Upali sangat terkesan dengan ajaran Sang Buddha sehingga ia langsung meminta untuk di terima sebagai pengikut Sang Buddha. Ia tercengang ketika Sang Buddha menasihatinya,"Upali, engkau adalah orang yang terkenal. yakinlah benar-benar bahwa engkau tidak mengubah agama/kepercayaanmu hanya karena engkau senang kepada Tathagata atau karena engkau sedang dalam pengaruh emosi/perasaanmu. Periksalah sepenuhnya ajaran Tathagata dengan pikiran terbuka sebelum engkau memutuskan untuk menjadi pengikut Tathagata".
Dengan semangat pemeriksaan yang bebas terhadap ajaran Sang Buddha, upali bahkan semakin senang dan ia berkata,"Yang Mulia, adalah sangay menakjubkan bahwasannya Anda meminta saya untuk mempertimbangkannya dengan hati-hati. Jika itu adalah guru-guru yang lain, mereka akan segera menerimaku dengan tanpa ragu-ragu, membawaku berkeliling di jalan-jalan dalam suatu prosesi dan mengumumkan bahwa seorang jutawan yang demikian-demikian telah meninggalkan agama/kepercayaan lamanya dan sekarang memeluk ajaran mereka. Ya, benar-benar, Yang Mulia, sudilah menerima saya sebagai pengikutMu".
Sang Buddha akhirnya setuju menerima Upali sebagai pengikut awamNya tetapi dengan menasehatinya demikian,"Meskipun engkau sekarang telah menjadi pengikutKu, Upali, engkau harus mempraktikkan toleransi dan rasa welas-asih. Teruslah memberi dana kepada guru-guru agama terdahulumu, karena mereka masih amat tergantung pada tunjanganmu. engkau tidak boleh mengabaikan mereka dan menghentikan tunjangan yang biasanya engkau berikan kepada mereka".
Nasihat Sang Buddha tentang toleransi, pemeriksaan yang bebas (terhadap ajaranNya) dan tidak menerima ajaranNya karena alasan-alasan emosi/perasaan, telah memberikan catatan yang bersih dalam sejarah penyebaran agama Buddha. Tidak pernah ada penganut-penganut fanatik agama Buddha yang memaksa orang-orang untuk menerima agama ini dengan menyiksa atau menakut-nakuti mereka dengan ganjaran hukuman. Agama Buddha mampu menyebar dalam cara yang damai, sebagian besar adalah karena keindahannya dan kemauan baik yang terkandung di dalamnya